Mid Test (S2)
Teknologi Komunikasi dan Informasi

  1. Rogers melihat Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai “The extension of Human Senses”, bagaimana anda menghubungkan konsep ini dengan definisi teknologi komunikasi dan informasi yang anda kenal?
  2. Teknologi informasi dan Komunikasi baru atau yang dikenal dengan Media Baru oleh Rogers memiliki sifat-sifat interactive, demassified, dan asynchronous, Jelaskan bagaimana sifat-sifat ini membantu komunikasi menjadi lebih efektif dan efisien.
  3. Berikan salah satu contoh teknologi informasi yang anda anggap paling berpengaruh terhadap perkembangan metode, dan sifat penelitian komunikasi,  dan jelaskan bagaimana teknologi tersebut mempengaruhi metode dan sifat dari penelitian komunikasi tersebut.
  4. Jelaskan bagaimana teknologi informasi dan komunikasi baru membantu mengatasi masalah-masalah information illiteracy.
  5. Jelaskan apa yang dimaksud oleh Wolton dengan istilah Teknologi Informasi dan Komunikasi bagaikan pedang bermata dua, dalam kaitannya dengan dampak teknologi tersebut pada masyarakat ?

Belajar menggunakan komputer lebih seperti belajar alat musik dibanding mengikuti instruksi bagaimana menggunakan peralatan listrik seperti pemanggang roti.”

Charles Rubin, August 1983

Salah satu dari dua topik utama dalam penelitian tentang teknologi baru komunikasi adalah bagaimana inovasi teknologi ini diadopsi dan diterapkan oleh pengguna. Sedangkan topik yang satu lagi yaitu dampak dari teknologi masih diperdebatkan. penelitian tentang adopsi media baru dilakukan berdasarkan aplikasi kontemporer dari teori difusi inovasi yang telah teruji. Bagaimanapun, ada beberapa aspek spesial dari aplikasi teori ini dalam hal teknologi baru komuniaksi. sebagai contoh, sifat interaktifnya berarti bahwa nilai dari inovasi itu bagi orang yang mengadopsinya menjadi bertambah besar seiring dengan semakin bertambahnya adopsi (contohnya, sistem pesan elektronik masih kurang bermanfaat sewaktu masih kurang orang mengadopsinya, hanya ketika semakin bertambahnya orang yang menggunakannya). Selanjutnya, tingkat penggunaan teknologi baru komunikasi berubah menjadi variabel penting baik adopsi terjadi atau tidak.

berikut adalah beberapa pertanyaan penting yang akan dibahas dalam bab ini.

· Siapa yang mengadopsi teknologi baru komunikasi? Apa karakteristik dari pengadopsi tersebut?

· Seberapa cepat tingkat adopsi tersebut?

· Bagaimana adopsi dari suatu media baru bisa mempengaruhi adopsi yang lain? Sebagai contoh, apakah orang yang memiliki komputer rumah juga memiliki VCR?Apakah benar bahwa sekali mengadopsi suatu teknologi komunikasi, memicu adopsi teknologi komunikasi yang lain?

· Apa itu proses inovasi, termasuk implementasi, dari teknologi baru komunikasi dalam sebuah organisasi?

Difusi Inovasi

Selama 45 tahun dan melalui 3,500 publikasi penelitian, model dari inovasi difusi telah menuntun penelitian dari penyebaran ide baru. Penelitian difusi dilakukan oleh peneliti dari berbagai bidang seperti antropologi, komunikasi, pendidikan, geografi, pemasaran, sosiologi pedesaan, sosiologi, dan beberapa lagi yang lainnya. Meskipun penelitian multidisiplin ini dilaksanakan dengan berbagai inovasi (seperti konsumen produk baru, teknik agrikultur, dan obat-obat baru), seiring dengan ia menyebar diseluruh masyarakat yang beranekaragam, penelitian difusi semuanya dituntun oleh teori yang umum. Aplikasi luas dari teori difusi menjelaskan mengapa begitu banyak penelitian difusi yang terus berlanjut dilakukan (McAnany, 1984). Disini kami meringkas elemen utama dari kerangka ini, dan membahas aplikasinya terhadap teknologi baru komunikasi.

Elemen utama dari difusi ide baru adalah: (1) inovasi, (2) dikomunikasikan melalui saluran tertentu, (3) dari waktu ke waktu, (4) diantara anggota sistem sosial (lihat gambar 4-1). Inovasi adalah sebuah ide, praktek, atau objek yang dianggap baru oleh seorang individu atau unit adopsi lain. Karakter dari suatu inovasi, yang dirasa oleh anggota sistem sosial, menentukan tingkat adopsinya. Lima sifat dari inovasi tersebut adalah: (1) relatifitas keuntungan, (2) kesesuaian,(3) kerumitan, (4) reliabilitas, dan (5) kebisaan diamati.

Saluran komunikasi adalah alat atau sarana dimana pesan didapatkan dari satu inidividu ke inidividu lain. Saluran-saluran media massa lebih efektif dalam menciptakan pengetahuan inovasi, sedangkan saluran interpersonal lebih efektif dalam membentuk dan mengubah sikap terhadap suatu ide, dan sehingga secara langsung mempengaruhi keputusan untul mengadopsi atau menolak ide baru. Kebanyakan individu mengevaluasi sebuah inovasi yang sedang mereka pertimbangkan untuk mengadopsinya, bukan berdasarkan pada penelitian ilmiah yang dilakukan oleh ilmiuwan tapi melalui evaluasi subjektif dari teman sebayanya dalam model sosial, dimana perilaku inovasinya cenderung diikuti oleh orang yang kain dalam sistem mereka.

Waktu juga termasuk faktor difusi dalam (1) proses keputusan inovasi, (2) keinovasian, tingkat dimana seorang individu atau unit lain pengadopsi relatif cepat dalam mengadopsi ide-ide baru dibanding anggota lain dalam sistem, dan (3) tingkat inovasi adopsi. Proses keputusan inovasi adalah proses mental dimana pengambilan keputusan seorang individu atau unit lain melewati pengetahuan pertama inovasi, membentuk sebuah sikap terhadap inovasi, memutuskan untuk mengadopsi atau menolak, menerapkan ide baru, dan konfirmasi keputusan (gambar 4-2). Empat langkah dalam proses ini adalah: (1) pengetahuan, (2) persuasi, (3) keputusan, (4) implementasi, dan (5) konfirmasi. Seorang individu mencari informasi pada berbagai tahap dalam proses keputusan inovasi untuk mengurangi ketidakjelasan inovasi tersebut.

Sistem sosial adalah satu set unit yang saling berhubungan yang tergabung dalam penyelesaian permasalahan untuk mencapai sasaran. Sebuah sistem memiliki struktur, digambarkan sebagai susunan terpola semua unit dalam sistem, yang memberi keseimbangan dan keteraturan pada perilaku individual dalam sistem. Struktur sosial dan struktur komunikasi dari sistem memfasilitasi atau menghalangi difusi inovasi dalam sistem. Sebagai contoh, seorang pimimpin opini adalah seseorang yang bisa mempengaruhi sikap individu lain atau melakukan suatu perilaku secara informal dalam cara yang diinginkannya dengan frekuensi yang relatif. Pemimpin opini mewujudkan norma dalam sebuah sistem sosial, pola perilaku yang dibangun untuk para anggota dari sebuah sistem sosial. Jika norma suatu sistem diuntungkan pada suatu inovasi pemimpin opini berkemungkinan untuk mengadopsinya, dan individual yang lainnya akan cenderung mengikuti pemimpin mereka.

Apa yang Istimewa dari Difusi Teknologi Komunikasi?

Teori difusi telah dibangun secara berangsur-angsur melalui penelitian dari berbagai inovasi. Proses difusi lintas berbagai inovasi yang berbeda menunjukkan keterkaitan yang besar dari keteraturan. Tapi hanya beberapa tahun terakhir peneliti telah mulai meneliti adopsi dari teknologi baru. Apakah ada kualitas tersendiri dari media baru yang akan membawa kita pada difusinya yang berbeda dari difusi yang umum ditemukan untuk ide baru?

1. Massa kritis dalam pengadopsi dari sebuah teknologi komunikasi interaktif penting untuk membuat penggunaan ide baru cocok bagi seorang individu. Manfaat sistem teknologi komunikasi baru bagi semua pengadopsi semakin meningkat seiring dengan semakin bertambahnya pengadopsi. Satu contoh, yaitu adopsi telepon oleh orang yang pertama pada tahun 1870an; teknologi interaktif ini hanya memiliki manfaat 0% sampai ketika individu yang kedua mengadopsinya juga.

Dimensi massa kritis dari teknologi komunikasi interaktif adalah faktor yang krusial dalam adopsi dan kegunaannya. Aspek massa kritis dari media baru adalah jejak dari kuailitas interaktifnya. Jika inovasi ini bukan saluran komunikasi mereka sendiri, pada hal tertentu, dimensi massa kritis tidak akan terlibat. Khususnya pada tahap pertama difusi inovasi, dimensi massa media adalah pengaruh negatif, memperlambat tingkat adopsi. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa sistem pesan berbasis komputer secara drastis tidak digunakan lagi jika kemungkinannya rendah untuk mencari individu yang diinginkan pada sistem.

2. Media baru komunikasi adalah alat teknologi, teknik yang bisa diaplikasikan dalam berbagai cara pada situasi yang berbeda-beda. Alat teknologi tersebut seperti itu dengan inovasi berbasis komputer kebanyakan dikarakterisasi oleh penemuan yang relatif tingkat tinggi. Konsep ini muncul dan dikenal hanya dalam penelitian difusi pada beberapa dekade lalu; sebelum itu ia disumsikan bahwa sebuah inovasi adalah kualitas yang standar, tidak berganti walaupun sudah didifusi. Sekarang kita menyadari asumsi tersebut hanya penyederhanaan yang berlebihan.

Penemuan adalah tingkat dimana sebuah inovasi diganti atau dimodifikasi oleh pengguna dalam proses adopsi dan implementasinya (Rogers, 1983). Keseringan terjadi penemuan memberitahukan kita bahwa adopsi media baru sering kali adalah perilaku yang sangat aktif dimana pengadopsi mengubah inovasi tersebut untuk disesuaikan dengan kondisinya. Dalam sebuah penelitian di California tentang difusi komputer rumah, pengadopsi secara tipikal melewati periode frustasi dalam beberapa minggu mengatasi masalah dan mencari informasi setelah pertama kali membeli. Mereka secara perlahan-lahan belajar bagaimana menggunakan komputer mereka secara tepat, dan mengaplikasikannya dalam berbagai tugas, seperti mengetik, menghitung, main video game, dan lain-lain. Pada akhirnya, responden penelitian komputer rumah di California menjadi pengadopsi yang puas, dan secara antusias merekomendasikan inovasi tersebut kepada teman mereka. Beberapa dari pengadopsi menjadi sangat tergantung untuk menggunakan komputer mereka.

Anda seharusnya tidak mengabaikan fakta bahwa adopsi teknologi baru komunikasi jarang dengan gampang diadopsi. Seorang individu harus menjadi sangat terlibat dengan inovasi. Kata ”adopsi” lebih cocok digunakan untuk menggambarkannya dibanding kata ”penerimaan”.

3. Varibel tergantung pada penelitian difusi tentang media baru seringkali adalah tingkat kegunaan dari inovasi, dibanding dengan hanya keputusan untuk mengadopsi atau bahkan implementasi. Penelitian awal difusi, seperti Ryan dan Gross (1943) dalam penelitian mereka tentang difusi bibit jagung hibrid diantara petani Iowa, hanya mempertanyakan kepada responden mereka apakah mereka telah memutuskan untuk mengadopsi ide baru tesebut, dan jika iya, kapan mereka memutuskan untuk mengadopsinya. Adopsi di sini dikatakan sebagai keputusan untuk menggunakan secara penuh inovasi sebagai suatu tindakan yang paling terbaik. Bagi para petani Iowa, adopsi dikatakan sebagai sebuah keputusan untuk menanam semau area jagung mereka dengan bibit hibrid. Sampai pada tahun 1970an, adopsi yang memuaskan menjadi variabel dependen utama dalam penelitian difusi, dimana umumnya didesain untuk menentukan karakteristik dari individu (1) yang telah mengadopsi dan melawan penolakan inovasi, dan (2) yang mengadopsi lebih awal dibanding yang lain.

Kemudian pada tahun 1970an, ilmuwan difusi mulai untuk meneliti proses inovasi dalam organisasi. Unit adopsi ini lebih rumit dibanding individu (sebagai contoh, petani Iowa dalam penelitian jagung hibrid).satu atau beberapa individu dalam sebuah organisasi bisa membuat keputusan untuk mengadopsi sebuah inovasi, tapi kemudian sekumpulan yang lain mungkin akan terlibat dalam implementasi ide baru tersebut. Sering periode waktu yang cukup panjang dibutuhkan untuk membuat inovasi tersebut digunakan, dan berbagai masalah mungkin akan dihadapi. Kebanyakan, sebuah keputusan adopsi tidak sepenuhnya dapat diterapkan. Secara jelas keputusan adopsi dan implementasi inovasi tidak bersama-sama. Jadi ketika penelitian difusi pada organisasi dimulai, variabel dependennya yang sering adalah implementasi, bukan lagi cuma keputusan untuk mengadopsi.

Implementasi lebih sering menjadi variabel dependen dalam penelitian difusi teknologi baru komunikasi, dibanding dengan adopsi. Sebuah gambaran diberikan oleh contoh penelitian pada implementasi mikrokomputer di sekolah menengah (pada bab berikutnya). Tingkat penggunaan dari media baru sering berada pada garis bawah, seperti yang digambarkan dalam kasus penelitian kami yaitu penggunaan surat elektronik dalam sebuah organisasi (juga terdapat pada bab selanjutnya).

Jadi ada beberapa hal penting dimana difusi teknologi komunikasi berbeda dari inovasi lain yang luas : (1) massa kritis, (2) penemuan yang relatif tinggi, dan (3) fokus pada implementasi dan penggunaan, dibanding hanya fokus pada keputusan untuk mengadopsi. Penelitian selanjutnya pada difusi teknologi baru komunikasi akan memberikan perluasan jangkauan teori difusi.

Difusi Komputer Rumah

Mikrokomputer menjanjikan untuk menjadi salah satu inovasi yang paling penting dalam dekade sekarang dalam hal perubahan yang penyebabnya terjadi dalam sekolah, tempat usaha dan rumah. Setidaknya komputer rumah akan menjadi artifak pusat bagi informasi masyarakat masa depan, sama dengan peran yang di miliki oleh mobil dalam masyarakat industri. Salah satu penelitian yang pertama kali pada difusi mikrokomputer dilakukan oleh penulis masa kini (Roger dkk, 1982) dimana sampelnya adalah rumah-rumah di Northen California. Semenjak itu, banyak penelitian tentang difusi komputer rumah dilakukan (Venkatesh dkk, 1984; Dutton dkk, 1986).

Komputer rumah (atau personal computer/PC) adalah mikrokomputer yang didesain untuk digunakan oleh individu, dibanding institusi seperti bisnis, organisasi pendidikan, atau pemerintah. Komputer rumah bersifat ”peribadi’ dimana kegunaannya dimaksudkan untuk pemilik (dan setidaknya juga keluarganya). Komputer rumah adalah mikrokomputer karena mikroprosesor digunakan sebagai unit pemerosesan pusat (central processing unit/CPU). Harga komputer rumah berkisar sekitar beberapa ratus dolar sampai ribuan dolar, rata-rata responden pada penelitian California memiliki komputer dengan harga $3,500 dan perlengkapan tambahan seperti printer, driver CD, dan juga modem.

Dalam penelitian 1982 kami, kami malakukan wawancara personal dengan 77 orang pemilik komputer rumah. Responden ini tidak diacak, tapi perwakilan, sampel dari rumah di Silicon Valey, mereka secara elit teknis dan sosiekonomi; rata-rata pendapatan peribadi adalah $38,000, umur rata-rata 36 tahun, dan 89 persen laki-laki. Selanjutnya penelitian difusi menunjukkan bahwa karakteristik ini menjadi tipe pengadopsi mikrokomputer yang pertama di Amerika Serikat. Hubungan yang kuat antara pendidikan formal dan pekerjaan teknis dengan adopsi komputer rumah mungkin disebabkan oleh sifat aktif inovasi, dimana melibatkan pengguna pada tingkat yang tinggi (tidak sama dengan adopsi TV pada tahun 1950an, sebagai contoh).

Sumber/Saluran Komunikasi pada komputer Rumah

Jaringan interpersonal lebih penting daripada media massa dalam menyebar pengetahuan tentang komputer rumah. Lebih dari setengah responden mengatakan mereka pertama kali mendengar tentang komputer rumah dari sumber interpersonal seperti teman sejawat, teman bergaul, dan anggota keluarga. Kebanyakan penelitina sebelumnya melaporkan bahwa media massa adalah hal penting yang telah membangun pengetahuan tentang inovasi, terutama sekali pada tahap awal proses difusi (rogers, 1983). Mikrokomputer adalah salah satu produk yang paling luas pengiklanannya di Amerika Serikat, namun meskipun biaya periklanan kampanye yang besar dikeluarkan oleh IBM, Apple, dan pabrikan mikrokomputer lainnya, difusi komputer rumah terjadi begitu banyak karena proses jaringan interpersonal. Bukti dari kesimpulan ini diperlihatkan oleh beberapa temuan:

· Pemilik komputer rumah rata-rata mengetahui 5 orang pemilik komputer lainnya terlebih duhulu sebelum membeli.

· Pemilik komputer rumah rata-rata membicarakan komputer rumah mereka kepada rata-rata 13 orang per bulan. Memamerkan komputer mereka kepada rata-rata 5 orang per bulan.

· Pemilik komputer rumah mendorong rata-rata 8 orang lain untuk membeli komputer.

· Pemilik komputer utamanya menerima pesan positif dari pemilik komputer lain sebelum mereka membeli: pesan positif lebih banyak dibanding yang negatif, perbandingannya 2:1

· Meskipun pesan yang mereka terima mendukung inovasi, dua per tiga dari pemilik komputer melaporkan bermasalah dengan komputer mereka. Sekitar sebulan atau lebih dibutuhkan setelah pembelian sebelum pemilik merasa nyaman menggunakan komputer mereka. Responden mengharapkan setelah pembelian dan membawa pulang komputer rumah mereka, menyalakannya, dan mulai menggunakannya untuk beberapa tugas tertentu. Namun, setelah pengalaman negatif tersebut, kebanyakan pemilik komputer merasa puas dengan pembelian mereka. Frustasi awal ini disebabkan oleh produk penemuan tingkat tinggi yang terjadi pada kebanyakanpemilikkomputer rumah yang baru dengan masuknya inovasi ke situasi tertentu mereka.

Bukti dari kebutuhan informasi bagi pengadopsi komputer personal adalah partipasi luas dalam kelompok pengguna mikrokomputer. Kesatuan penggunan lokal ini biasanya terorganisir berdasarkan pembuat komputer, sebagai contoh, kelompok pengguna Apple boston, kelompok pengguna Des moines IBM, dan lainnya. Ratusan dari ribuan pengguna milrokomputer mengikuti kelompok tersebut, dan berkelanjutan untuk menghadiri pertemuan bulanan mereka. Pada sesi ini, masalah teknis dibahas, sofware program dicopy dan dan ditukar, dan perlengkapan komputer yang bekas dijual dan dibeli. Kelompok pengguna ini berkembang karena mereka memberikan informasi dan dukungan kepada pengadopsi baru mikrokomputer. Eksistensi kelompok pengguna ini hanya menggambarkan betapa rumit bagi kebanyakan individu untuk belajar menggunakan mikrokomputer.

Tipe komunikasi interpersonal yang baik dan membanjir tentang komputer rumah terjadi melalui jaringan sebaya. Pemilik yang puas sering kali menjadi pengaruh yang meyakinkan kepada tetangga dan teman dalam difusi komputer rumah. Mengapa jaringan interpersonal berhasil tidak seperti biasanya dalam difusi komputer rumah? Mungkin benar ia dikarenakan oleh antusiasme yang tinggi yang dirasakan oleh pengadopsi terhadap komputer rumah mereka. Banyak yang bosan dengan komputer mereka, dan mendiskusikannya dengan teman, tetangga, jaringan kerja, dan bahkan dengan orang asing. Kegiatan menganjurkan seperti itu mungkin termotivasi oleh sifat dasar komputer; ia adalah alat yang digunakan seseorang untuk mengerjakan berbagai tugas. Pemanfaatan komputer rumah seperti itu membuat individu tersebut menjadi partisipan yang aktif dengan teknologi. Kualitas unik dari mikrokomputer ini sebagai sebuah produk kunsumen membawa dari periode frustasi ketika pemilik belajar menggunakan perlengkapan baru, kemudian selanjutnya ia memberi antusiame yang khusus yang membuat pemiliknya mengaktifkan jaringan interpersonal.

Dampak dari Adopsi Mikrokomputer di Rumah

Dampak adalah perubahan yang terjadi pada seorang individu atau sistem sosial yang disebabkan oleh adopsi atau penolakan dari suatu inovasi. Rata-rata komputer rumah digunakan selama 17 jam dalam seminggu. Pemilik komputer rumah menggunakan komputer mereka sekitar sepertiga dari waktu tersebut bermain vidoe game, sepertiga lagi untuk mengetik dan sisanya untuk hal-hal lain. Mengetik di komputer adalah sejenis pengetikan yang otomatis yang memudahkan pengguna untuk menyusun dan mengedit teks dengan tampil di layar monitar. Teks ketikan bisa disimpan pada disk magnetik untuk penggunaan di masa akan datang, dicetak di kertas, atau dikirim ke komputer lain melalui jaringan telepon. Keuntungan utama dari pengetikan ini adalah membuat penulisan dan revisi selanjutnya menjadi efisien karena komputer memiliki banyak fungsi yang bisa digunakan oleh pengguna.

Adopsi komputer di rumah membuat berkurangnya jumlah waktu yang digunakan untuk menonton TV. Rata-rata rumah di Amerika Serikat, TV dinyalakan sekitar 7 jam sehari. Penelitian di rumah-rumah California mendapati bahwa mereka menurunkan jam menonton televisi mereka sekitar 34 menit per hari, dan bahkan ada satu rumah mengatakan sekitar 4 jam penurunan per hari. Perubahan ini menggambarkan pergantian besar pemanfaatan waktu. Disimpulkan bahwa komputer mungkin loebih membuat orang kecanduan daripada televisi.

Kecanduan komputer seperti itu menambah jenis masalah personal dan keluarga responden. Pengguna komputer enggan untuk pergi makan atau tidur (”sebentar lagi sampai selesai kerjaan saya”). Kami mendengar komplain dari ”janda komputer”, yaitu istri yang suaminya ”komputerholik”( kecanduan komputer). Konflik orang tua dengan anak terjadi karena siapa yang memakai komputer. Penngguna komputer juga mengatakan mengalami kurang tidur karena waktu yang dihabiskan di depan komputer (Dutton dkk, 1985).

Setelah mendapatkan tingkat adopsi yang begitu pesat selama 7 tahun, difusi komputer rumah melambat pada tahun 1985. Harga bursa saham perusahaan komputer jatuh, dan perusahaan tersebut terpaksa memecat ribuan karyawan. Beberapa perusahaan mikrokomputer bahkan jatuh bangkrut.

Mengapa tingkat difusi komputer rumah menurun? Satu alasan yang paling mendasar adalah tidak adanya kebutuhan fungsional bagi komputer di rumah, kecuali bagi orang minoritas kecil (Caron dkk, 1085). Fungsi pengetikan bisa saja dijalankan dengan seimbang oleh mesin ketik yang mahal, dan fungsi video game bisa diganti dengan begitu murah oleh mesin video game. Selain dari pengetikan dan permainan video game, komputer rumah tidak terlalu digunakan. Salah satu fungsi utama komputer rumah adalah untuk belajar bagaimana menggunakan komputer. Fungsi uniknya pula adalah sebagai saluran membawa informasi masuk ke dalam rumah, tapi hanya sekitar 20 persen dari pengadopsi komputer rumah memiliki modem di tahun 1985 dan menggunakan perlengkapan mereka untuk komunikasi komputer. Mengapa pengadopsi komputer begitu puas jika komputer mereka tidak menjadi kebutuhan nyata? Mungkin karena individu yang telah mengadopsi harus mempertimbangkan investasi yang baik.

Kegunaan tambahan dari komputer rumah akan membutuhkan lebih banyak software. Konsumen juga meminta harga yang lebih rendah untuk komputer, setidaknya setengah dari harganya pada tahun 1985. terakhir, karena komputer rumah sangat rumit untuk dipelajari cara penggunaannya, teknik pelatihan yang sederhana dan lebih gampang harus ditemukan. Jika beberapa prasyarat ini bisa dipenuhi, tingkat difusi mungkin akan meningkat lagi.

Inovasi yang Gagal : Sistem Context di Universitas Stanford

Pada tahun 1981, pusat komputer di Universitas Standford mengumumkan sistem pengetikan baru yang disebut Context, yang telah dipromosikan sebagai alat untuk penulisan ilmiah. Context beroperasi pada satu komputer besar universitas, dengan setiap pengadopsi dari sistem ini menyewa satu terminal komputer sekitar $300 dolar per bulan. Context merupakan perbaikan yang terbesar diantara berbagai alternatif pengetikan. (sekitar ratusan sistem yang telah digunakan di Stanford), dimana relatif mahal biayanya.

Context diluncurkan dengan heboh: berita di newsletter mingguan fakultas, rekaman video yang menunjukkan beberapa profesor terkenal menggunakan layanan bary tersebut dan demonstrasi. Mahasiswa non exact yang kurang bersentuhan dengan komputer, berharap untuk mengadopsi komputer. Profesor yang pertama memulai penggunaan sistem baru tersebut sangat antusias, dan diharapkan bahwa difusi tersebut akan meningkat.

Tapi, hanya 66 dari 180 langganan Context meminta untuk berhenti, dan dalam 2 tahun semenjak peluncurannya, Context berhenti. Apa yang terjadi?

Context adalah korban dari ketidakberuntungan waktu. Perancang sistem tersebut tidak mengantisipasi bahwa para profesor Stanford akan membeli mikrokomputer mereka sendiri, dan lebih memilih untuk menggunakan sistem berdiri sendiri ini untuk mengetik. Mikrokomputer, disk drive, dan printer bisa dibeli dengan harga yang sama dengan 1 tahun uang sewa Context. Lebih jauh lagi, Context ternyata susah untuk dipelajari, terutama bagi profesor, seperti di fakultas non eksak, yang tidak memiliki pengalaman tentang komputer sebelumnya. Sementara bagi mereka yang sudah terampil, Cintext membutuhkan biaya yang mahal pada operasinya yang rumit.

Sistem Context dibatalkan pada akhir tahun 1983, ketika administrator Universitas Stanford berpikiran bahwa universitas sedang mengalami krisis keuangan (beberapa bulan kemudian, prasangka krisis secara misterius menghilang).

Menghancurkan Tembok Pembatas ATM

ATM (automatic teller machine) merupakan mesin yang beroperasi secara otomatis dengan menggunakan piranti elektronik yang dapat mengeluarkan uang cash serta dapat melakukan transaksi keuangan misalnya deposito atau transfer termasuk mengecek dan menyimpan uang dengan hanya memasukkan sebuah kartu khusus. Mesin ATM merupakan representasi dari jenis komunikasi semi interaksi di mana pengguna dapat dapat berinteraksi dengan bank teller yang diprogram dengan respon yang sangat terbatas.

Pada akhir tahun 1970- an dan awal tahun 1980- an ada sekitar 70.000 mesin ATM yang diaktifkan oleh bank- bank Amerika Serikat, dengan biaya mencapai 1 milliar dollar. PAda awalnya, mesin- mesin ATM ditempatkan di dalam bank, namun kemudian mesin- mesin tersebut dipindahkan keluar dengan tujuan agar dapat memberikan pelayanan 24 jam kepada para customer, dan pada akhirnya mesin- mesin ATM tersebut ditempatkan di supermarket, gedung- gedung perkantoran, serta di tempat- tempat umum lainnya. Satu kelebihan dari mesin teller otomatis ini adalah mereka jarang melakukan kesalahan. Biaya yang dapat di pangkas melalui pembukaan mesin ATM sangat menguntungkan bagi pihak bank. Tiap mesin ATM membutuhkan biaya 20.000 dollar ditambah biaya instalasi sebesar 10.000, tapi biaya ini jauh lebih murah dibandingkan jika bank ingin membuka cabang baru yang membutuhkan dana sekitar 1 juta dollar. Kelabihan yang paling utama dengan adanya mesin- mesin ATM ini adalah pihak bank dapat mengurangi jumlah pekerja. Bank of America mempunyai 116 buah ATM yang dapat mengurangi jumlah pegawai sebanyak 1.400 orang teller. Tiap transaksi melalui mesin ATM, bank akan membayar 21 sen, dibandingkan jika pelanggan pergi ke bank cabang yang dimana bank membayar sebesar 52 sen. Hal ini tentu saja memberikan gambaran yang jelas mengapa para banker tertarik terhadap mesin A|TM.

Namun demikian, masalah yang muncul kemudian adalah bagaimana membuat para nasabah beralih menggunakan mesin ATM. Pada tahun 1085, hanya satu dari tiga nasabah bank AMerika Serikat yang menggunakan mesin ATM, dan hal ini kelhatannya akan berjalan stabil. Oleh karena itu, bank- bank telah mencoba berbagai macam cara untuk menghancurkan tembok, ungakpan yang di gunakan oleh para banker untuk tingkat pemakaian ATM 30 persen yang hampir selesai. Intensif positif yang ditawarkan oleh bank- bank untuk mendorong pemakaian mesin ATM termasuk biaya yang kecil untuk mendapatkan pelayanan baru, penarikan hadiah, biaya pelayanan bulanan yang lebih rendah untuk nasabah yang menggunakan ATM khusus ( ide yang sama untuk pembayaran harga bensin yang lebuh rendah di SPBU jika anda mengisinya sendiri). Sebuah bank Pittsburgh bahkan mebangun mesin ATM yang dapat berbicara dengan tujuan agar pelayanan yang diberikan dapat terasa seperti pelayanan yang dilakukan oleh teller yang sebenarnya.

Ketika umpan semacam itu tidak mampu untuk mengahancurkan tembok penolakan terhadapa mesin ATM, beberapa bank telah kembali ke stick yaitu melakukan”pemaksaan” kepada para nasabah. Secara umum, intensif negative ini sama dengan menjadikan hal tersebut lebih susah atau lebih mahal bagi para nasabah untuk menggunakan teller manusia.

· Sebuah bank di Boston menempatkan telernya tak terlihat, dan mewajibkan para nasabahnya untuk membuat perjanjian sebelumnya jika ingin bertemu, kalau tidak, mereka harus menggunakan ATM.

· Citibank New York pada tahun 1983 mengahsruskan para nasabah yang saldo tabungannya kurang dari 5.000 dollar untuk menggunakan ATM.

· Bank Nasional Sentral Cleveland mewajibkan nasabah yang ingin bertemu dengan teller harus masukkan kartunya ke dalam sebuah terminal, dari pada mengambil nomer seperti pada pusat penjualan daging pada sebuah pusat grosir.

· Sejumlah bank di seluruh wilayah negara menggunakan strategi yang paling simple dari semua. Mereka beul –betul melayani dengan teller manusia, sehingga antrian yang panjang akan memaksa para nasabah untuk menggunakan ATM.

Salah satu alasan yang menjadikan para nasabah enggan menggunakan mesin ATM disebabkan karena sulitnya megakses ATM. Sebagai contoh, saya harus mengemudi selama sepuluh menit melalui kemacetan di Los Angeles dengan tujuan ingin menuju ke ATM terdekat. Dalam perjalanan ini, saya melalui banyak mesin ATM yang merupakan milik bank lain, tapi saya tidak bisa menggunakannya. Banyak dari kesulitan- kesulitan dalam mengakses ATM ini tidak perlu terjadi seandainya bank- bank telah bergabung bersama untuk mengembangkan jaringan nasional untuk ATM- ATM yang kompatibel dengan menggunakan model warung telepon (wartel). Layanan public seperti ini akan banyak memberikan keuntungan kepada para nasabah bank dalam menggunakan ATM. Di Iowa, sebuah peraturan mewajibkan adanya terminal atau mesin ATM bersama dan sistem ini dapat berjalan dengan baik. Namun demikian, tiap- tiap bank mendesak untuk mempunyai ATM sendiri. Dan para nasabah lah yang dirugikan.

Mungkin, keengganan menggunakan mesin ATM yang telah menyebar luas di masyarakat dapat memberitahukan kepada kita hal yang menyangkut persepsi public terhadap keberadaan sistem computer sebagai pengganti dari layanan yang diberikan langsung oleh manusia. Bahwa fungsi sosial- emosional dari interaksi dengan banker mungkin lebih penting bagi kita dibandingkan dengan fungsi tugas dalam melakukan transaksi keuangan.

Penggunaan Sistem persuratan elektronik

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya pada bab ini, penelitian terhadap peyebaran tehnologi comunikasi interaktif selalu mencoba menjelaskan tingkat penggunaan inovasi sebagai variable independennya dibandingkan dengan keputusan untuk menggunakan ATM atau tidak. Perumpaan yang cukup pas dari jenis studi pemakaian ini yaitu research yang dilakukan oleh Charles Steinfeild (1983) pada sistem surat elektronik yang telah dioperasikan selama kurang lebih tujuh tahun di sebuah persahaan besar Amerika Serikat yang menjual peralatan kantor. Sistem tersebtu digunakan oleh lebih dari 2000 pengguna yang berlokasi di 6 kota di Amerika Aerikat dan luar negeri.

Sistem surat elektronik dimulai di perusahaan divisi R and D, dan kemudian menyebar dengan cepat melalui organisasi (menggambarkan dimensi massa kritikal peyebaran). Pengguna tertentu mengirim kira- kira dua pesan per hari dengan menggunakan sistem tersebut, dan menerima pesan dengan jumlah yang sama. Pada rata- rata 15 menit per hari kerja dihabiskan dengan sistem surat elektronik, sebuah waktu yang cukup lama. Seperti kasus yang lain, terdapat sedikit pengguna berat dari sistem ini, dan jika ini dihilangkan rata- rata dua pesan per hari akan berkurang menjadi hanya satu pesan. Sistem surat elektronik ini digratiskan untuk para karyawan untuk segala jenis keperluan dan kebijakan ini tentunya akan mebndorong peningkatan pemakaian sistem tersebut. Tidak ada usaha yang dilakukan oleh pihak management perusahaan untuk mengurangi komunikasi yang tidak berkaitan langsung dengan pekerjaan dan faktanya terdapat jumlah yang cukup besar penggunaan socio emosional seperti itu.

Sistem surat elektronik tersebut diintegrasikan dengan fungsi pemrosesan kata dan fungsi computer lainnya pada tiap stasiun kerja. Para karyawan kebanyakan menyimpan dokumen- dokumen computer mereka sendiri, tapi karena semua stasiun terhubung dengan sebuah jaringan kerja, file- file komputer yang banyak dapat disimpan di dalam komputer mainframe perusahaan. Komputer sentral juga mengeluarkan surat elektronik. Tiap orang dengan sebuah mailbox pada sistem tersebut dapat mengirim surat ke kepada orang lain. Pesan dapat dikirim kepada satu orang atau juga kepada list distribution (sekelompok orang yang mempunyai kepentingan yang sama)

Steinfield, mahasiswa doctoral dalam penelitian komunikasi pada University of Southern California (dan sekarang telah menyandang gelar professor di Michigan State) berhasil mendapatkan persetujuan perusahaan untuk bekerja sama dalam penelitiannya. Dia menjadi anggota dari dua distribution list (masing- masing terdiri dari ratusan orang) pada sistem surat elektronik. Entri semacam itu memungkinnya untuk berpartisipasi dalam sistem interaksi dan berhasil pendapatkan konsep awal dari fungsi- fungsi yang sistem tersebut layani. Pengumpulan datanya yang tidak menonjol memungkinkan dia untuk mengidentifikasi beragam penggunaan sistem tersebut. I akeudian memasukkan dalam pemakaian ini skala di dalam sebuah quisioner yang kemudian ia dstribusikan secara random ke 400 pengguna sebagai sampel. Respon yang diperoleh sebesar 55 persen (N= 220).

Tiap responden diberi pertanyaan seberapa sering mereka menggunakan sistem surat elekrtonik tersebut pada setiap 18 penggunaan yang berbeda (penggunaan skala). Faktor yang dianalisis dari data tersebut mengindikasikan dua dimensi utama pemakaian, pertama yaitu berkaitan dengan tugas/ pekerjaan termasuk pemakaian untuk pengiriman pesan melalui telepon, jadwal rapat dan pertemuan, serta menyimpan dokumen- dokumen perjanjian dan hal lainnya, dan yang kedua adalah socio emosional termasuk bermain game, menjaga hubungan, dan melihat atau mempelajari hal- hal yang disukai. Penggunaan sosial emosional lainnya adalah membicarakan rehat dari pekerjaan, periklanan, mengatur aktivitas sosial, dan mengisi waktu- waktu luang. Jadi, sistem surat elektronik mempunyai fungsi sosila dan hiburan yang sangat penting. Sistem ini kadang- kadang digunakan seperti majalah atau laporan berkala perusahaan.

Variable independen apa yang memiliki hubunfa yang paling erat denga tingkat pemakaina sistem ini?Salah satu faktor penentu yang penting dalam pemakaian adalah akses, seperti dengan mempunyai terminal komputer sendiri dari pada mempunyai komputer yang dishare dengan puhak lain. Variable independen lainnya adalah kebutuhan, yang diindikasikan dengan apakah seorang individu harus berkomunikasi atau tidak dengan pekerja di divisi lain perusahaan atau atau mereka yang berkantor di kota lain (sistem ini meberikan manfaat besar terutama dalam mengatasi kendala jarak). Dan yang terakhir adalah karakteristik sosial yang beragam dari individu (seperti umur, jabatan, lamanya waktu sebagai karyawan) juga terkait dengan tingkat pemakaian.

Salah satu penggunaan sistem surat elektronik yang tergolong unik ( yang tidak memungkinkan dilakukan melalui media komunikasi lainnya) adalah untuk menyiarkan permintaan informasi. Misalnya, sebuah pesan dapat dikirim ke sebuah distribution list yang besar yang dimulai dengan “Semua orang mengetahui sesuatu tentang…?” Penggunaan unik lainnya adalah terjadi ketika sebuah tim desain melakukan survey populasi pemakai terhadap reaksi mereka untuk beberapa alternative desain. Dalam satu hari, tim desain meerima ratusan respon. Tim desain tersebut kemudian mengembalikan fed back hasil survey tersebut kepada para pemakai yang menjelaskan bahwa mereka mengikuti pilihan desain yang paling banyak. Tidak ada bentuk teknologi lain yang memungkinkan akses ke perusahaan yang cepat terhadap keahlian yang tersebar secara fisik dalam hal isu ini. Secara umum, surat elektronik memungkinkan terjadinya jenis komunikasi yang sebaliknya tidak dapat terjadi tanpa kesulitan yang besar.

Kebijakan konvensional mengenai teleconferen komputer mangindikasikan bahwa surat elektronik tidak dapat bekerja dengan baik untuk fungsi seperti konflik resolusi dan konflik negosiasi. Memang, Steinfield (1983, p 66) menemukan bahwa sangat sedikti pemakaian yang dibuat dari pemakaian untuk tujuan tersebut. Sistem komunikasi interaktif tidak memliki cukup kemampuan untuk mengontrol conflik dan penawaran.

Hal demikian juga terjadi pada surat elektronik yang digunakan sebagai alat untuk mengetahui identitas seseorang. Lebih jauh lagi, hal- hal yang menyangkut rahasia jarang dikirim melalui sistem surat elektronik, diluar perhatian terhadap keamanan sistem ini.

Dibandingkan dengan tingkat pemakaian dari produk inovasi lainnya, teknologi komunikasi terbaru menyebar dengan sangat cepat di kalangan rumah tangga di Amerika. Mungkin terdapat segmen yang relatif kecil dari total populasi, misalnya 5 sampai 10 persen yang secara konsisten merupakan pengguna pertama dari produk inovasi teknnologi komunikasi terbaru seperti mikrokomputer,video tape recorder, TV kabel, video teks dan teleteks dan sejenisnya. Inovator- inovator tersebut menyadari bahwa mereka adalah bagian dari sebuah masyarakat informasi, dan menempati sebuah nilai yang tinggi pada inovasi teknologi yang menolong mereka untuk memperoleh informasi. Di Jepang, kalangan rumah tangga yang berjumlah 5 sampai 10 persen ini yang juga secara umum merupakan kelompok pertama yang menggunakan teknologi komunikasi yang baru ini dikenal dikenal sebutan “hot market”. Mereka cenderung untuk membeli produk- produk inovasi mikroteknologi hampir segera setelah produk tersebut direlease.

Beberapa bukti yang menunjukkan eksistensi dari sebuah “hot market” super innovator di Amerika Serikat diperlihatkan oleh hasil penelitian yang dilakukan Mediamark Research inc pada tahun 1984 yang merupakan lembaga penelitian pasar Amerika Serikat. Sampel yang terdiri dari 20.000 orang dewasa memberikan data tentang pemakaian 300 produk inovasi oleh pelanggan. “Hot market” untuk produk teknologi informasi terbaru diwakili oleh pengguna kluster produk inovasi elektronik seperti komputer untuk rumah tangga, video kaset rekorder,serta video disk, dan mereka yang membeli perlengkapan stereo untuk rumah dan mobil mereka. Para super innovator pengguna teknologi komunikasi ini, berbeda dengan para konsumen yang bergabung dalam klub- klub kesehatan, atau mendapatkan rekening cash, atau juga yang memasang kompor berbahan bakar kayu. Dengan demikian, keinovasian ditandai dengan kelas yang luas, dengan teknologi komunikasi baru yang membentuk satu kluster inovasi konsumen.

Jika kluster- kluster inovasi semacam itu terjadi, serta pemakaian sebuah medium yang mempengaruhi penggunaan lainnya, pertanyaan kemudian muncul, apakah ada pemicu inovasi yang memicu para konsumen untuk membeli produk yang lain? Jawaban dari pertanyaan ini belum mendapat penjelasan yang mendalam, namun hal ini sangat penting untuk penelitian yang akan datang.

Karakteristik pengguna media baru

Hal apa yang mencirikan individu dan rumah tangga yang meruakan pemakai pertama teknologi komunikasi baru? Salah satu karakteristik yang paling menonjol adalah status ekonomi mereka. Baik itu dilihat dari segi pendapatan, prestasi kerja, atau pun tingkatan kelas pada sekolah formal, individu- individu inovatif relatif lebih elit dibandingkan dengan mereka yang menggunakan teknologi tersebut belakangan ( atau meeka yang menolak untuk menggunakannya). Alasan mendasar untuk menjelaskan keinovasin atau status hubungan adalah 1) media yang baru merepresentasikan biaya yang tidak kecil, dan elit- elit sosial ekonomi mempunyai kemampuan untuk membayar disbanding yang lainnya, (2) orang- orang yang lebih berpendidikan mempunyai kesadaran yang lebih tinggi akan keutamaan dari informasi dan merasa perlu untuk mengetahuinya dan (3) profesi- profesi prestis tinggi tertentu misalnya ilmuan dan insinyur merupakan figure kunci dalam masyarakat informasi yang akan datang, dan secara tehnis lebih kompeten dalam menggunakan tehnologi komunikasi baru tersebut. Hubungan positif antara status sosial ekonomi dan keinovasian merupakan alasan mendasar mengapa media baru semakin memperlebar gap informasi dalam masyarakat antara informasi yang mahal dengan informasi yang murah (lebih detail pada bab 5). Karena informasi mahal meggunakan tehnologi komunikasi baru relatif lebih awal dibandingakn dengan informasi murah, individu- individu, rumaha tangga, dan organisasai memperoleh informasi lebih cepat dibandingkan dengan informasi yang murah.

Dibandingkan dengan media massa konvensional seperti radio, televisi, film, dan mungkin juga pers, media baru mempunyai ratio informasi yang lebih tinggi untuk tujuan enterteimen. Tentunya orientasi informasi media baru merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pemakaian mereka. Individu yang berharap untuk melengkapi diet enterteiment ketat dari media konvensional tersebut tertarik terhadap media baru. Individu- individu ini cenderung merupakan kalangan yang berpendidikan khususnya bagi mereka yang bekerja pada bidang informasi seperti R and D, pendidikan dan profesi (Duton and others, 1986)

Individu yang memiliki status yang lebih tinggi mempunyai kemungkinan yang lebih besar dalam menggunakan media baru tersebut karena hal tersebut dipandang sebagai simbol status sosial. Ketika layanan terminal for manager (TFM), yaitu sistem pesan elektronik diperkenalkan kepada delapan pejabat tinggi dari Stanford University pada tahun 1980, dimana mereka secara umum dianggap mewakili perbedaan status sosial, diundang untuk ikut terlibat dalam penelitian ini. Interview personal kami menunjukkan bahwa 58% dari mereka yang menggunakan sistem ini merasa bahwa memiliki a sebuah terminal komputer TFM berfungsi sebagai sebuah symbol tingkatan status seseorang (Rice dan Case, 1983). Pada tahun berikutnya, 1981, TFM diperluas hingga mancakup ratusan pengelola universitas lainnya, tentunya banyak dari individu- individu ini menggunakan TFM dengan sangat antusias karena dengan demikian mereka telah bergabung dalam sebuah club elektronik yang exclusive.

Para pemakai pertama juga diindikasikan mempunyai prilaku komunikasi yang berbeda dengan mereka yang menggunakannya belakangan, dimana para pemakai pertama:

· Lebih kosmopolit ( cosmopolitan merupaka tingkatan di mana individu diorientasikan di luar sistem sosial)

· Lebih terbuka ke jalur media massa dan relatif kurang tergatung pada jalur komunikasi interpersonal.

· Lebih terbuka terhadap jalur komunikasi interpersonal dan lebih terinterkoneksi melalui hubungan jaringan kerja dengan sistem.

· Lebih bersifat langsung dalam hal komunikasi dengan sumber- sumber informasi teknis dan ilmiah mengenai teknologi informasi baru.

Jadi gambaran umum mengenai prilaku komunikasi dari individu yang lebih inovatif dalam menggunakan media baru tersebut adalah bahwa mereka merupakan para pencari informasi yang lebih aktif mengenai informasi semacam itu. Mereka juga mencari informasi semacam itu dari para ahli, serta mereka menjangkau atau mencari sampai jauh menyimpng dari perjalanan, bacaan, dan pertemanan mereka.

Akhirnya, para pemakai pertama dari teknologi komunikasi baru memiliki perbedaan dengan para pemakai yang baru menggunakan teknologi tersebut dalam hal variable- variable personalitas tertentu. Mereka mempunyai rasa empati yang lebih besar (kemampuan seseorang untuk menmpatkan diri mereka pada posisi yang dialami orang lain), kurang dogmatis (tingkat dimana seseorang relatif dekat dengan sistem kepercayaan) kemampuan yang lebih besar untuk berhubungan dengan abstraksi, dan yang terakhir lebih rasional ( pemakaian cara yang efektif untuk mencapai tujuan akhir yang diberikan).

Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pemakai pertama dan yang belakangan berbeda dalam hal status sosial ekonomi mereka, prilaku komunikasi serta variable personalitas (Rogerd, 1983, pp. 251- 270). Mungkin terdapat dua karakteristik personal lain dari para pengguna yang harus disebutkan, mereka adalah jenis kelamin dan umur. Anak- anak lebih reseptif terhadap tehnologi komunikasi terbaru dibandingkan dengan orang dewasa serta mampu memelajari bagaimana menggunakan teknologi komunikasi tersebut dengan lebih cepat. Misalnya mikrokomputer dan dan video game. Individu yang melalui masa pertengahan khusunya kaum wanita menghadapi tantangan yang besar dalam mempelajari bagaimana menggunakan komputer dan media- media baru lainnya. Pada bab 5 kita akan melihat bukti yang lebih bukti detail bahwa anak laki- laki memiliki daya terima yang lebih tinggi dibandingkan anak perempuan dalam menggunakan mikro komputer.

Peyebaran yang cepat dari VCR (video cassette recorder)

Salah satu teknologi baru yang tingkat pemakaiannya terbilang cepat pada tahun 80-an dan akan terus mendaki kurva difusi berberntuk S bahkan mengalami peningkatan yang lebih cepat pada tahun 80-an adalah video cassette recorder (VCR). Gambar 4-4 menunjukkan bahwa 20% kalangan rumah tangga amerika telah membeli VCR pada tahun 1985 dan naik 1% dari tahun 1980.

Mengapa VCR mengalami peyebaran sedemikian cepatnya di Amerika Serikat? Salah satu alasannya adalah adanya peraturan dari pengadilan pada tahun 1984, bahwa siaran televisi tidak melanggar aturan- aturan hukum hak paten. Keputusan ini mengakhiri tahun pengadilan dan mempertegas hak yang jelas dari para pemilik VCR untuk menjiplak apapun secara langsung dari perangkat televisi mereka tanpa harus khawatir dituduh melakukan pembajakan. Namun keputusan hukum ini tidak dapat menahan tingkat kecepatan pemakaian yang telah berlangsug dari tahun 1980 sampai tahun 1984.

Salah satu penyebab utama dari cepatnya tpeningkatan pengguna VCR di Amerika adalah harga yang ditawarkan sangat murah. Pada tahun 1975, ketika VCR pertama kali diperkenalkan di Amerika Serikat, recorder home Betamax buatan Sony yang di kombinasikan dengan perangkat televisi dihargai sebesar 2.200 dollar. Pada tahun 1985, harganya kemudian turun drastis menjadi 300 dolar, video tape kosong turun dari harga sebelumnya 20 dolar manjadi 5 dolar. Pada pola yang secara umum sama dengan pemakaian televisi pada tahun 50-an, pengguna VCR pertama memliki skala yang lebih tinggi dari pengguna dengan rata- rata pendapatan dan pendidikan yang lebih baik. Pada pertengahan tahun 80-an, perbedaan status sosial ekonomi antara pengguna VDR dengan yang bukan pengguna VDR semakin tidak jelas karena teknologi komunikasi ini semakin banyak dipakai oleh masyarakat luas. Terdapat hubungan dua arah antara antara harga VCR dengan dengan tingkat pemakainnya, bukan hanya karena harganya yang relatif lebih murah tapi juga adanya perluasan pasar yang memberi kontribusi dalam persaingan harga yang bermuara pada harga yang lebih murah.

Alasan lainnya dapat kita lihat pada tahun 80-an dimana terdapat tape kaset yang terekam sebelumnya dapat diperoleh secara luas baik untuk dibeli maupun sekedar untuk disewa. Ada lebih dari 14.000 kaset pre recording yang beredar di pasar pada tahun 1985 termasuk di dalamnya film, video musik, program anak- anak, dan beragam jenis kaset instruksi (latihan aerobik, merangkai lemari buku dsb). Dibutuhkan biaya sebesar 25 dolar bagi keluarga yang ingin melihat film keluaran terbaru di bioskop, tapi hanya dengan bermodalkan uang sebesar 5 dolar mereka dapat menoonton film yang sama di VCR mereka.

Konsequensi apa yang timbul akibat berkembang pesatnya penggunaan VCR di Amerika Serikat? Jawabannya adalah uang yang berlimpah pada industri perfilman Hollywood yang menjual hak cipta film untuk film yang lagi hits. Film semacam ini menyumbangkan 14% dari total pendapat film. Namun demikian penyebaran pemakaian VCR telah mendatangkan berita buruk bagi jaringan televisi. Pembagian penonton yang menyaksikan stasiun TV seperti ABC, CBS, dan NBC drop yang pada awalnya sebesar 92% pada tahun 1977 menjadi 74% pada tahun 1984. Beberapa mantan penonton jaringan TV beralih ke TV kabel namun demikian banyak juga yang menonton program di video tape.

Penamaan sebuah teknologi komunikasi baru

Seberapa penting kah sebuah nama bagi sebuah teknologi informasi baru sebagai faktor pendukungnya? Nama menentukan persepesi bagi para calon pemakainya, dan akan menentukan apakah mereka akan memakainya atau tidak. Seringkali terjadi, sebuah penamaan didominasi oleh kalangan ahli teknik, sehingga nama yang dihasilkan terdengar sangat teknikal (yang berpotensi membuat bingung para calon pemakai atau bahkan dapat membuat calon pemakai beralih). Terkadang, penamaan sebuah teknologi komunikasi terlihat seperti kegiatan yang agak serampangan, sangat jarang sekali penamaan tersebut dilakukan melalui proses evaluasi formulatif dengan tujuan untuk mengidentifikasi nama yang paling sesuai di mata para calon pemakai.

Namun demikian nama yang dipilih secara serampangan terkadang lebih efektif dibandingakan dengan nama yang terdengar terlalu teknis. Hal ini dapat dilihat misalnya pada sistem video teks Green Thumb yang digunakan oleh para petani Kentucky pada awal tahun 80- an. Dua orang ahli berita cuaca dari pemerintah Amerika Serikat pada awalnya menamai formasi sistem ini AGWEX untuk menunjukkan bahwa sistem ini menyediakan informasi cuaca bagi pertanian melalui pelayanan tambahan. Sekertaris senat Amerika Serikat Wlater Huddlestone yang mendukung penuh teknologi komunikasi baru ini mulai menyebutnya denag istilah Green Thumb (paisley, 1983). Nama yang familiar dan memilki pengaruh yang besar bagi para petani Kentucky.

Sistem teleteks Francis yang secara resmi dikenal dengan istilah Antiope, yang merupakan anak perempuan Raja Thebes dalam mitologi Yunani, membuat bingung kalangan masyarakat dengan kata dalam bahasa Francis (dan Inggris) antelope. Dalam hal ini, nama yang sangat kesusasteraan sangat membingungkan bagi calon pemakai.

Ketika penamaan sebuah teknologi komunikasi baru dilakukan secara serampangan atau dilakukan oleh para ahli teknologi tanpa adanya perhitungan adanya evaluatisi formatif dengan tujuan sebagai petunjuk dalam pemilihan kata yang tepat yang mempunyai arti di masyarakat, nama yang demikian itu kemudian akan mengahalangi penerimaan terhadap teknologi baru tersebut oleh masyarakat. Teknologi komunikasi baru harus diberi nama yang mempunyai arti dan dan dapat dengan mudah dimengerti oleh para pengguna. Pemberian nama yang dilakukan denag cara tersebut, sementara secara teknis benar, berpotensi membuat para pengguna mengalami kebingungan atau dapat memberikan kesan negatif. Kita harus berusaha yang lebih keras lagi dibandingkan denga pada masa yang lalu dalam hal pemilihan nama yang tepat untuk teknologi komunikasi baru.

Proses Inovasi dalam organisasi

Selama kurung waktu beberapa decade awal dari penelitian mengenai penyebaran inovasi, studi- studi ini memfokuskan diri pada individu – individu sebagai unit dari pemakaian. Kemudian hal tersebut disadari bahwa ternyata banyak inovasi yang digunakan bukan oleh individu tapi oleh organisasi. Pertukaran ini dalam unit pemakaian merupakan hal penting dalam hal teknologi komunikasi baru, dimana teknologi tersebut sering digunakan oleh organisasi misalnya mikrokomputer yang digunakan di sekolah, surat elektronik dan teleconference dalam perusahaan bisnis.

Mempelajari proses inovasi dalam ikatan organisasi merepresentasikan sebuah perubahan dari model penyebaran klasik ke dalam beberapa cara yang berbeda. Misalnya, proses inovasi dalam organisasi selalu dianggap berjalan dengan baik jika prsoses tersebut mengarah kepada implementasai (termasuk kelembagaan dari sebuah ide baru) tidak hanya terhadap keputusan untuk menggunakan teknologi yang ada didalam dirinya. Namun juga seperti yang dijelaskan sebelumnya pada bab ini, bahwa individu memainkan peran aktif dan creatif dalam dalam proses inovasi dengan penyesuaian inovasi dengan sebuah masalah organisasi yang dirasakan tau mungkin menemukan kembali inovasi tersebut. Sebuah iniovasi seharusnya tidak dipahami sebagai sebuah elemen yang tetap, invariant dan statis dalam sebuah proses inovasi, tapi semestinya dipahami sebagai ide yang fleksibel dan adaptable yang diartikan atau diartikan kembali secara teratur sebagai proses inovasi yang perlahan- lahan terbuka.

Akhirnya, dibandingkan dengan survey oleh lembaga independen dan analysis data mengenai korelasi keinovasian, para peneliti proses inovasi yang terjadi dalam organisasi mulai menggunakan studi- studi kasus yang lebih mendalam. Perpindahan dari struktur yang lebih tinggi ke

Tentunya inovasi merupakan sebuah proses, sebuah rangkaian keputusan, peristiwa, dan prilaku yang berubah dari waktu ke waktu. Model penelitian sebelumnya tidak cukup memungkinkan diadakannya analisis yang memdai terhadap aspek- aspek temporal inovasi yang dibutuhkan untuk mengamati karakter dari proses yang dilaluinya. Hanya sedikit sekali penelitian sebelumnya yang memasukkan data pada lebih dari satu poin observasi, dan hampir tidak ada yang berhasil melacak perubahan di dalam sebuah variabel dalam waktu yang sebenarnya. Penelitian ini hanya berkaitan dengan waktu sekarang dari perilaku inovasi tersebut.

Sebuah Model Proses Inovasi

Penelitian yang dilakukan baru-baru ini terhadap proses inovasi dalam organisasi mengikuti pendekatan studi kasus yang relatif tidak terstruktur terhadap data yang dikumpulkan. Mereka merupakan studi pengusutan terhadap proses keputusan inovasi untuk inovasi tunggal dalam sebuah organisasi. Penelitian tersebut di ditutuntun oleh sebuah model proses inovasi dalam organisasi yang mempunyai konsep terdiri dari 5 tahapan. Tiap tahapan dicirikan dengan jenis prilaku pengambilan keputusan dan pencarian informasi. Tahapan selanjutnya pada proses inovasi biasanya tidak bisa terjadi sampai tahap yang sebelumnya dipenuhi. Namun, ada logika berhubungan dengan 5 tahapan dalam proses inovasi, meskipun ada pengecualian. Kelima tahapan diorganisir dibawah dua subproses luas, inisiasi dan implementasi, dibagi oleh inti pengambilan keputusan adopsi (gambar 4-5).

Inisiasi

Inisiasi adalah semau pengumpulan informasi, penyusunan konsep, dan perencanaan untuk inovasi, berujung pada keputusan untuk mengadopsi.

· Tahap1, pengaturan agenda. Langkah pertama dalam inisiasi terjadi ketika pemimpin mendapati masalah dalam organisasi, yang mungkin dibutuhkan sebuah inovasi yang mungkin bisa mengatasi masalah tersebut.

· Tahap 2, penysuaian. Pemimpin menyesuaikan inovasidengan masalah organisasi mereka apakah ia sesuai dengan kebutuhan mereka.

Implementasi

Tiga tahap dalam proses inovasi yaitu mengikuti keputusan mengadopsi. Implementasi adalah semua kejadian, tindakan, dan keputusan yang terkait dalam meletakkan suatu inovasi ke dalam penggunaan

· Tahap 3, menentukan atau menstruktur ulang. Aplikasi dari ide baru seringkali berbeda dari yang sering digunakan sebelum adopsi. Namun, penyesuaian harus dilakukan. Jika ada kesesuaian antara masalah dan inovasi maka perubahannya minim. Dalam banyak kasus, inovasi biasanya membawa perubahan besar pada struktur organisasi.

· Tahap 4, klarifikasi. Dengan masuknya inovasi ke dalam organisasi anggota akan semakin terbiasa dengan perubahan tersebut dan menyatu dengan organisasi.

· Tahap 5, merutinkan. Setelah inovasi masuk dan menjadi bagian dari organisasi ia akan menjadi entitas organisasi dan diterapkan dalam prosedur operasi sehari-hari.

Technological change has placed communication in the front lines a social revolution

(William Paisley, 1985)

Kalimat di atas terdengar begitu dahsyat. Perubahan teknologi menempatkan komunikasi di garda paling depan dari perubahan sosial. Dalam konteks mediasi, teknologi media berperan dalam membentuk cara kita berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain. Teknologi media, layaknya sebuah struktur, membatasi apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan manusia. Ini terjadi tak lain karena tiap medium memiliki kemampuan teknis yang berbeda dalam menyampaikan teks, suara atau gambar (Croteau :262). Bahkan Mc Luhan, yang terkenal dengan adagium medium is the mesage, mengatakan bahwa teknologi media memiliki implikasi pada keseimbangan penggunaan indra kita. Misalnya media cetak yang hanya bisa menyampaikan teks dan gambar diam lebih memfungsikan indra mata. sedangkan radio memaksimalkan fungsi indra telinga..

Dalam kacamata kaum determinist, teknologi merupakan elemen penting yang menjadi pangkal dari perubahan sosial. Teknologi dilihat sebagai kekuatan sosial dari luar yang masuk (atau dimasukkan) ke dalam situasi sosial tertentu dan mengakibatkan efek perubahan beruntun. Fischer sebagaimana dikutip Croteau menyebutnya sebagai pendekatan bola bilyar. Meskipun dalam kenyataan tak selamanya begitu. Sebagaimana yang terjadi di India ketika para petani di sana dikenalkan pada teknologi televisi dalam rangka difusi-inovasi teknologi pertanian (Rogers, 1982:80). Pengalaman di India menunjukkan bahwa ada kesenjangan efek media yang menyebabkan kegagalan komunikasi pembangunan.

Dalam kajian tentang teknologi media, ada dua ranah utama yang bisa dijadikan sebagai focus of interest yaitu adopsi dan dampak sosial dari teknologi media dalam masyarakat. Penelitian tentang adopsi teknologi komunikasi berdasar pada penerapan teori yang telah dikenal lama dan memiliki sejarah panjang yaitu teori difusi-inovasi. Beberapa pertanyaan utama tentang adopsi teknologi komunikasi yang menarik untuk dicermati antara lain siapa yg mengadopsi. Bagaimana karakteristiknya. Mengapa mereka mengadopsi. Seberapa cepat proses adopsi terjadi. Apakah adopsi tersebut membawa efek pada adopsi teknologi/sesuatu yang lain (Rogers, 1986:117)

Masih menurut Rogers (1986:134) kelompok orang yang melakukan adopsi lebih awal (earlier adopter) biasanya memiliki karakteristik yang berbeda dengan kelompok terakhir (later adopter) yaitu :

· Lebih kosmopolit, kosmopolitan adalah ukuran dimana individu memiliki orientasi diluar sistem sosial.

· Memperoleh lebih banyak terpaan dari beragam media massa dan relatif tidak tergantung pada saluran komunikasi antarpribadi.

· Memiliki banyak saluran komunikasi antarpribadi, dan memiliki jaringan hubungan yang lebih tinggi dalam sistem.

· Lebih banyak berhubungan secara langsung dengan sumber informasi tentang teknologi komunikasi baik ilmiah dan teknis.

Fokus kajian berikutnya yaitu mengenai dampak sosial dari kehadiran teknologi komunikasi. Dari berbagai kajian yang telah dilakukan oleh para sarjana, beberapa dampak yang cukup signifikan dalam kehidupan sosial antara lain

Kesenjangan Informasi, Katzman mengeluarkan postulat (Rogers, 1986:168) bahwa teknologi baru komunikasi setidaknya membawa dampak pada peningkatan jumlah informasi yang dikomunikasikan pada seluruh individu dalam suatu masyarakat. Peningkatan yang lebih besar dialami oleh kelompok yang mendapat akses informasi lebih banyak (information rich) daripada sebagian kelompok, yang biasanya mayoritas, miskin informasi (information poor) yang sangat berkaitan dengan status sosial ekonomi.

Pemikiran ulang konsep ruang dan waktu, kemunculan televisi sebagai teknologi audiovisual memaksa kita berpikir ulang mengenai konsep ruang dan waktu. Sebuah peristiwa di belahan dunia yang jauh bisa kita ketahui dalam waktu yang nyaris bersamaan. Menyaksikan suatu peristiwa tanpa harus berada disana. Melalui teknologi komunikasi informasi yang semakin canggih, sekat jarak dan waktu seolah hilang. Dunia benar-benar tak ubahnya sebuah kampung global (global village).

Pergeseran makna dalam kehidupan sosial, Neil Postman (1985) berargumen bahwa masyarakat yang berbasis media cetak (masyarakat Amerika abad 18 hingga 19) termotivasi untuk rasional, serius dan koheren dalam cara berpikir dan isu tentang wacana publik. Membaca membentuk pemikiran yang analitis, logis dan jelas. Dan kondisi itu berubah sejak kemunculan televisi (Croteau, 268:269). meningkatnya penggunaan televisi mengubah cara masyarakat berbicara dan berpikir tentang isu publik, apalagi ketika tayangan televisi didominasi oleh hiburan dan gosip. Lebih jauh lagi, para penganut posmodernisme menuding budaya audiovisual sekarang sebagai biang dari hiperreality.

Selain itu, teknologi komunikasi juga menggeser apa yang kita sebut sebagai identitas dan peran sosial. Meyrowitz (1985) televisi secara radikal memutus hubungan antara lingkungan fisik (physical place) and lingkungan sosial (social place).Sebelum media elektronik berkembang, peran sosial dan identitas kita terkait erat dengan lingkungan fisik dimana kita berada. Penemuan media elektronik, terlebih televisi, membuat definisi keduanya menjadi kabur. Setidaknya berubah untuk menyesuaikan dengan kondisi sosial yang baru.

Referensi

Croteau, David and William Hoynes. 1997. Media/Society: industries, images, and audiences. United States: Pine Forge Press

Rogers, Everett M. 1986. Communication Technology. New York: The Free Press.

_______________. 1982. Communication and Development: critical perspective. Cetakan keempat. California: Sage Publication.

Agar dapat memahami seluruh sifat-sifat teknologi komunikasi baru, kita harus mempelajari sejarahnya serta masa depannya . Salah satu bagian yang paling penting dalam sejarah teknologi komunikasi adalah munculnya bidang akademik ilmu komunikasi. Disiplin ilmu ini berkembang menjadi kekuatan intelektual utamanya di AS selama periode setelah perang dunia ke II, walaupun asal mulanya dapat dilacak sekitar 30 tahun sebelumnya di lembaga-lembaga pendidikan di Eropa dan Amerika.

Dalam bab ini, kita membahas kebangkitan ilmu komunikasi sebagai disiplin akademik selama lebih dari beberapa decade lalu, dengan memperhatikan setiap kontributor utamanya. Pokok yang ingin kami perlihatkan adalah bagaimana setiap teknologi komunikasi yang terdapat di Amerika – pers, film, radio,dan televisi – adalah berkaitan dengan peristiwa-peristiwa, ide-ide, dan orang-orang yang penting dalam penelitian komukasi. Kami akan membarikan analisis histories ini hingga masa 1980an yang merupakan era komuniksi iteraktif (yang akan membahasnay dalam bab lain).

Perspektif Personal

Bab ini memberikan sejarah penelitian komunikasi dari sudut pandang pribadi penulis ; langkah subyektif ini membantu membuat sejarah intelektuan penelitian komunikasi menjadi lebih menarik dan logis untuk diikuti, walaupun ini berarti memasukkan banyak sudut pandang saya perbadi. Saya memulai pekerjaan pasca sarjana pada tahun 1954, tak lama setelah titik tolak yang penting bagi ilmu komunikasi pada tahun 1950, dan karenanya karir saya telah berkaitan dengan sejarah yang akan saya gambarkan disini. Selain dari analisis ini, sejarah ilmu komunikasi jarang ditemukan dan biasanya hanya berupa bagian-bagian kecil, misalnya dalam bab-bab yang ditulis oleh Wilbur Schramm (1985) dan Daniel Czitrom (1982). Kurangnya perhatian terhadap sejarah ini terasa janggal mengingat sudah berapa lama penelitian komunikasi telah berlansung dan betapa pentingnya hal ini.

Saya menerima gelar doktor sosiologi pada tahun 1957, pada saat yang sama dengan diberikannya gelar Ph.D komukasi yang pertama oleh Schramm di Universitas Illinois. Saya telah mendapat gelar master di Univ Neg. Bagian Iowa, dan mempertimbangkan untuk kuliah komunikasi di Illinois, tapi akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal di Ames. Masa-masa itu adalah masa-masa yang paling menyenangkan dalam penelitian komunikasi yang masih baru dan bebas. Beberapa buku terbit seperti; Proses & Efek Komunikasi Massa Schramm (1954), Cybernetik (1948), dan The Human Use Of Human Beings Norbert Wiener (1950), dan Teori Matematik Komunikasi Claude E. Shannon & Warren Weaver (1949). Pada masa itu kami menyadari peranan yang akan dimainkan oleh buku yang paling terakhir disebut dalam memberian paradigma dasar bagi bidang ilmu komunikasi. Kami sekalian yang merupakan mahasiswa pasca sarjana ilmu sosial di tahun 1950an mengetahui bahwa komunikasi merupakan suatu proses fundamental manusia dalam menjelaskan tentang perubahan perilaku. Sudut pandang ini ditunjukan oleh sekelompok kecil sarjana-sarjana dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda, menjadi satu dalam satu model komunikasi, sebagaimana yang digagas oleh Shannon & Weaver.

Hasil karya para pelopor ilmu komunikasi mempengaruhi pemikiran saya pada pertengahan1950an. Buku karangan Paul F. Lazarsfeld dengan Elihu Katz, Pengaruh Personal (1955), dibahas dalam seminar kuliah pasca sarjana. Kami membaca buku Kurt Lewis dalam tugas kelompok dan saya ingat melakukan perjalanan Iowa City, dimana Lewis mengajar , untuk mendiskusikan teori-teorinya yang juga dengan murid-muridnya di Univ Iowa. Saya terkesan dengan ucapan Harold Lasswell, “Siapa yang mengatakan apa di chanel mana yang pada siapa memberikan efek apa? Kami mempelajari Carl Hovland yang dilakukan di Yale, berdasarkan percobaan –percobaan masa perangnya mengenai efek komunikasi dari film militer.

Saya beranggapan bahwa metode penelitian kuantitatif memberikan langkah-langkah pendekatan yang paling menjanjikan guna memahami sifat-sifat perubahan perilaku manusia, sehingga saya mengambil kuliah tambahan statistik di Univ. Neg. Bagian, Universitas dimana bidang ini telah dibuka di AS oleh ahli statistik agrikultur R. A. Fisher di tahun 1930an. Diserta saya berkaitan dengan penyebaran inovasi-inovasi agrikultur diantara para petani di pedalaman Iowa. Pada masa itu komputer Mainframe menjadi popular dipakai dalam penelitian pendidikan, dan disertai saya memasukkan sejumlah kemunduran ; mungkin itu suatu pertanda dimasa dimana saya memeriksa print out komputer dengan sebuah kalkulator meja .

Karena pendidikan pasca sarjana saya berorientasi empiris dan berdasar metode kuantitatif. Seluruhnya berdasarkan pada suatu pemahaman teori komunikasi pada masa itu. Setelah menyelesaikan doctor saya, saya pindah ke Univ. Ohio sebagai asisten professor bidang sosiologi rural, khususnya dalam penelitian penyebaran inovasi-inovasi di Univ. ini, beberapa anggota fakultas dalam bidang pidato, jurnalis, psikologi dan sosiologi membentuk pasca interdisiplin dalam penelitian komunikasi, dan saya berpartisipasi aktif di dalamnya.

Setelah 6 tahun di Columbus, saya pindah menempati jabatan di fakultas di Univ. Neg. Bagian Machigan dijurusan komunikasi, yang dipertengahan 1960an, sedang menikmati masa-masa keemasannya. Para professor dan mahasiswa berusaha untuk menegaskan bidang ilmu komunikasi. Jurusan ini dipimpin oleh David Berlo, satu dari mahasiswa doktor Shrammdi Illinois. 9 tahun kemudian saya pindah ke Univ. Michigan, kemudia selama satu dekade di Stanford (dimana saya ditawarkan menduduki jabatan Shramm setelah ia pesiun), dan akhirnya di Univ. California selatan pada tahun 1985. Selama masa tersebut, ketertarikan saya pada teknologi komunikasi interaktif bertumbuh semakin kuat.

Akar / Pendukung dari Erora : Trade & Simmel.

Ilmu pengetahuan Amerika bisa berada pada pencapainnya seperti sekarang ini, sebagiannya karena adanya transfusi intelektual yang sangat banyak dari talenta-talenta akademik Eropa, yang dimulai pada tahun 1933 dimana Nazi mengambil ahli kekuasaan di Jerman. Para professor Yahudi dipecat dari jabatan di Universitas mereka, dan beberapa orang berotak cerdas berimigrasi ke AS : seperti Albert Einstein, Erik Erikson, Jhon Van Neumann, dan masih banyak lagi. Para sarjana imigran ini berkontribusi pada penelitian militer selama Perang Dunia II : misalnya banyak dari mereka yang bekerja diproyek Manhattan sementara proyek bom atom Jerman mengalami kemandegan (Coser, 1984).

Imigran intelektual dari Eropa ke Amerika di tahun 1930an secara langsung menguntungkan perkembangan ilmu komunikasi di AS. Banyak dari pada ahli kunci dari penelitian komunikasi (misalnya Kurt lewin dan Paul F. Lazarsfeld) adalah imigran, dan sebagian besar ahli kelahiran Amerika telah mendapatkan gelar Ph.D mereka dari Universitas-universitas di Eropa. Sehingga walaupun ilmu komunikasi dimulai di AS, tetapi memiliki akar yang sangat kuat di Eropa.

Gambar 3-1 adalah peta sejarah ilmu komunikasi, memperlihatkan sekitar selusin orang yang memiliki peranan kunci dalam perkembangan ini. Perhatikan bahwa asal muasal sejarah intelektual ini muncul di Eropa pada akhir 1800an. Pad masa itu, Universitas-universitas di Eropa, khususnaya di Jerman, adalah yang terbaik di dunia. Para peneliti sosial Eropa pada era ini mempengaruhi secara tidak langsung ilmu komunikasi yang kemudian lahir di AS : misalnya Max Weber, ahli birokrasi Jerman ; August Comte, bapak sosiologi, dan Emile Durkheim ,seorang pionir dalam mnegunakan motode penelitian empiris, keduanaya dari Prancis ; Sir Herbert Spencer, yang terkenal oleh Darwinisme sosial. Ada 2 tokoh lagi yang memberikan pengaruh langsung pada ilmu kmunikasi gaya Amerika : yaitu Gabriel Tarde dari Prancis dan George Simmel dari Jerman.

Tarde adalah seorang hakim di Prancis, dan ia banyak mendasarkan dari observasi sosialnya terhadap perilaku manusia yang dihadapinya dalam ruang pengadilannya. Tarde menciptakan teori imitasi, yaitu dimana orang-orang dipengaruhi oleh perilaku orang lain yang mereka temui setiap hari. Pemahaman tentang imitasi ini memberikan dasar bagi penelitian komunikasi tenang difusi/penyebaran inovasi-inovasi (Rogers, 1983) dan pada teori pembelajaran sosial (Bandura, 1977) di Amerika Serikat sekitar 40 tahun kemudian. Difusi adalah suatu proses dimana suatu inovasi dikomunikasikan melalui jalur-jalur tertentu selama beberapa waktu di antara anggota-anggota suatu sistem sosial. Tarde mengamanti bahwa tingkat adopsi suatu ide baru biasanya menyerupai bentuk kurva S.

Setelah beberapa waktu : pada awalnya hanya beberapa individu yang mengadopsi ide baru, kemudian tingkat adopsi meningkat secara cepat karena banyaknya orang-orang yang menerima inovasi tersebut, dan akhirnya tingkat adopsi merosot secara tajam karena hanya sedikit orang yang tinggal untuk mengadopsi. Tarde mengamati bahwa kurva S akan bergerak jika pemimpin opini dalam suatu sistem mengadopsi ide baru.

George Simmel adalah bapak dari psikologi sosial, suatu kajian tentang pengaruh kelompok terhadap perilaku individu. Bukunya The Web Of Group-Afflikations, ditulis pada tahun 1992 tapi tidak diterjemahkan kedalam bahasa Inggris hingga 24 tahun kemudian (Simmel, 1946). Edisi ini memperkenalkan teori jaringan komuniksi, yang mana terdiri atas individu-individu yang terkoneksi yang terhubung oleh aliran informasi yang terpola (Rogers & Kincaid, 1981 p 63). Bagi Simmel, pernyataan yang paling penting untuk memahami perubahan perilaku manusia adalah ”Pada siapakah individu tersebut oleh ikatan komunikasi ?”. Simmel memberikan sebuah stimulus secara teori untuk mempelajari jaringan komunikasi, tetapi penelitian secara empiris pada topic ini belum ada sejak beberapa decade, hingga Jacob L. Mareno(1934) mendemokan metode penelitian yang tepat dalam mengukur dan mengamati jaringan. Ia mengambar jaringan komuniksi sebagai “ dapur dari opini masyarakat”.

Simmel & Tarde adalah pencetus teori komunikasi yang ide-idenya tidak diubah menjadi dalil-dalil yang teruji secara empiris sehingga bertahun-tahun kemudian, di sisi lain samudra Atlantis, dimana metode-metode komunikasi ditekan dan dimana pendekatan-pendekatan empiris terhadap penelitian komunikasi berkembang.

Empat Akar Amerika.

Empat sarjana pada pengantian abab Amerika yang memiliki pengaruh penting terhadap ilmu komunikasi adalah Jhon Dewey, Charles Horton Codley, Robert F Park dan Goerg Herbert Mead. Mereka menyumbang ide-ide cemerlang yang berkembang di masa depan bagi ilmu komunikasi manusia. Keempat tokoh ini menempatkan komunikasi pada pusat gambaran perilaku manusia, walaupun sekarang tak satu pun dari keemapt tokoh tersebut dianggap sebagai tokoh komunikasi : Dewey dianggap sebagai seorang filsuf dan psikologi ; Cooley seorang sosiologi sosialisai personality ; Park sebagai tokoh kunci disekolah sosiologi Chicago ; dan Mead adalah seorang psikologi sosial.

Keempat tokoh ini dianggap sangat filosofis, walaupun mereka mengunakan beberapa data sebagai dasar bagi teori-teori mereka. Bagaimanapun mereka bukanlah peneliti yang melakukan eksperimen atau survey.

Dewey, Cooley, Park dan Mead, semuanya menekankan suatu pendekatan fenomenologis pada komunikasi manusia, menegaskan bahwa subyektifitas individu atas bagaimana suatua pesan diteriama adalah esensinya kualitas manusia. Karenanya, bagi empat orang ini, bagaimana seorang individu menerima informasi, suatu arti/makna diberikan pada suatu pesan, adalah aspek fundamental dari proses komunikasi. Subyektifitas ini diakui tetapi kemudian tidak dipedulikan dalam model linier komunikasi massa yang muncul pada tahun 1950an dan setelahnya, dan keempat akar ilmu kmunikasi biasanya tidak diperdulikan di masa kini. Ini adalah kesalahan yang serius.

Dewey, Cooley, Park disebut sebagai Trio Progresif oleh Czitrom (1982, p xii) dalam uraian sejarah bidang komunikasi massanya. Nama ini berasal dari besarnya kepercayaan orang-orang ini dalam komunikasi massa (khususnya Koran, media massa yang domain dijaman mereka) sebagai agen perbaikan moral & konsensus politik bagi rakyat Amerika. Indstrilisasi, urbanisasi, dan migrasi besar-besaran dari Eropa ke AS menimbulkan masalah social yang menjadi perhatian yang serius bagi Trio Progresif. Mereka berharap bahwa teknologi komunikasi massa baru pada jaman meraka dapat membantu kemajuan rakyat. Kelemahan meraka adalah mengabaiakan junalisme Koran, baron/ pengusaha Koran terkemuka (Hearst & Pulitzer), dan iklan komersil yang mengatakan bahwa media adalah meraka sendiri sangat buruk.

John Dewey : Progmatisme

Seperti tiga peyokong ilmu komunikasi Amerika lainya. Dewey berasal dari latar belakang liberal, dari kota kecil dan keluarga protestan. Selama tahun-tahun pertama mengajar filosofi di Univ Michigan (dari 1884-1894), Dewey mempengaruhi Cooley dan Park, mempengaruhi mereka dengan suatu pandangan yang melihat komunikas massa sebagai alat perubahan sosial.Dewey ingin untuk “mengubah filosofi dengan cara memperkenalakan bisnis Koran didalamnya (Czitrom, 1982 p 92) dengan kolaborasi bintangnya. Robert Park, Dewey memulai dengan mencoba Koran baru,Thought News, untuk melaporkan penemuan-penemuan mutakhir dalam ilmu sosial dan untuk mengatasi masalah-masalah sosial.

Walaupun korannya berbentuk utopia itu gagal, Dewey tidak pernah menyerah pada potensi media massa untuk membawa reformasi sosial. Pemikiran Dewey berdasarakan pada teori evolusi Darwin dan pada suatu kenyakinan bahwa teknologi komunikasi terbaru mungkin mampu menyusun kembali nilai-nilai masyarakat dalam suatu lingkungan (Czitrom, 1982 p112). Dalam karirnya kedepan, Dewey agak menarik diri dari keterlibatan langsung dalam perubahan sosial utopia, tetapi ketertarikan terhadap Koran tidak berkurang. Dewey dianggap sebagai filsuf pertama dalam komunikasi.

Dewey pada masa kini dikenal karena “ Filosofi Pragmatisnya”, suatu kenyakinan bahwa suatu ide itu benar bilamana berhasil dalam praktiknya. Pragmatisme menolak dualisme pikiran dan persoalan, subyek dan obyek. Selama 1 dekadenya di Univ Chicago, 1894-1904, Dewey ditunjuk untuk mengepalai yang kemudian disebut sekolah Edukasi Universitas tersebut, termasuk bertanggung jawab untuk “sekolah percobaan” (suatu sekolah dasar dimana teori-teori filosofi Dewey diujikan). Pada akhir percobaan pendidikan Dewey dianggap terlalu radiakal oleh pimpinan universitas, sehingga Dewey mengundurkan diri dari Chicago, dan pindah ke Universitas Columbia (Bulmer, 1984 p 28).

Walaupun dia tidak pernah melakukan eksperimen sendiri, Dewey yakin bahwa eksperimen pada khususnaya dan ilmu pengetahuan pada umumnya memberikan dasar intromental bagi psikologi sosial, suatu bidang dimana kolega dan teman Dewey, George Herbert Mead, akan kembangkan pada tahun-tahun kedepannya di Chicago.

Sehingga selain peranan kuncinya sebagai pendukung intelektual komunikasi, Dewey juga mesti dihargai atas pembukaan sekolah filosofi pragmatis, mempelajari pendidikan, dan membentuk prasyarat bagi psikologi sosial. Dewey memberikan pengaruh langsung pada Mead, Park, dan Cooley, 3 pendukung ilmu komunikasi Amerika.

Charles Horton Cooley : The Looking-Glass Self (Orang Bercermin)

Tujuan utama teori Cooley adalah dalam bagaimana individu-individu bersosialisasi. Mungkin pandanganya datang dari luar sifat kepribadian Cooley. Ia sangat pemalu dan mengalami kesulitan berbicara, orang introvert dan menjalani hidup bagai pertapa/menyendiri. Cooley (1864-1929) lahir di Ann Arbor, Michigan, kuliah di Univ Michigan, dan mengajar disana seumur hidupnya. Awalnya tertarik pada ilmu sosial karena memepelajari Darwinisme sosial Herbert Spencer (Deweylah yang mengenalkan karya Spencer kepada Cooley), Cooley kemudian menolak warisan turun temurun dan individualisme sebagai determinan/penentu kepribadian. Sebagai pengantinya Cooley melihat komunikasi interpersoanal dengan orangtua dan teman dalam kelompok utama sang individu sebagai dasar utama sosialisasi.

Cooley memberikan nilai yang tinggi terhadap komunikasi dalam skema konseptualnya itu merupakan mekanisme yang sangat penting dalam pembentukan diri dalam bercermin. Interaksi dengan orang lain berfungsi sebagai cermin, membantu membentuk gambaran diri individu. Bagi Cooley komunikasi memberikan cara bersosialisasi, dan karenanya seperti benang yang menjaga kebersamaan masyarakat (Czitrom, 1982 p 96). Dasar empiris utama bagi teori-teori Cooley datang dari introspeksinya sendiri dan pengamatannya secara dekat pada bagaimana kedua anaknya yang masih kecil tumbuh.

Cooley menulis 3 buku utama : Human Nature & Social Order (1902), Social Org (1909), dan The Social Process (1918). Buku yang pertama menguraikan konsep orang bercermin; buku terakhir lebih banyak berisi tentang masa depan Utopia (yan diwujudkan oleh komunikasi massa,sebagaimana yang diprediksikan sarjana Ann Arbor ini).

Cooley lebih fokus komunikasi interpersonal dari pada media massa, walau pada akhirnya ia juga memeberi perhatian pada media massa, khususnya pada tahun-tahunterakhirnya ketika mintanya berubah menjadi hal-hal Utopia. Cooley memiliki kenyakinan yang sangat besar terhadap pergerakan sosial, dan mungkin karena ia sangat kecewa dengan komersialisme Koran, ia hanya melakukan sedikit usaha untuk mendalami realita-realita efek-efek komunikasi massa, untuk menyelidiki trend kepemilikan perusahan media, atau untuk menentukan peranan media massa dalam sosialisasi masa kanak-kanak.

Robert E Park dan Sekolah Sosiologi Chicago.

Robert Park pantas disebut sebagai “pembuat teori komunikasi massa pertama “(Frazier & gaziano, 1979 p 1). Bahkan ia mungkin juga mendapat sebutan “peneliti komunikasi massa pertama” karena Park telah melakukan penelitian empiris terhadap isi Koran, pembacanya, dan struktur kepemilikan. Yang patut diperhatikan pula adalah keunggulannya sebagai pemimipin sekolah sosiologi Chicago, salah satu pusat ilmu sosial yang paling berpengaruh yang pernah ada. Tapi Park belum memiliki jabatan apapun di universitas hingga ia berusia 50 tahun.

Park disebut sebagai satusatunya orang yang berpengaruh dalam sosiologi Amerika (Boskoff, 1969 p 94), sementara pengamat yang lain menyatakan bahwa kemungkinan besar tiada orang lain yang memberikan pengaruh sangat besar terhadap arah yang diambil oleh sosiologi empiris Amerika “(Turner 1967 p ix). Kata-kata ini adalah pujian yang sangat tinggi, dan Robert Park mendapatkannya bukan karena menjadi dosen yang hebat (yang sudah pasti diabukan begitu), tapi lebih karena pengaruhnya yang sangat kuat terhadap Mahasiswa-mahasiswa doktoral di Chicago. Hingga addanya Park, sarjana-sarjana besar dalam ilmu sosial bekerja secara sendiri-sendiri dan agak terisolasi dari intektual yang memiliki perhatian yang sama. Park mengubah hal ini, menciptakan jaringan intergrasi lokal para guru dan Mahasiswa S2 yang melakukan program penelitian atas masalah-masalah umum di satu kota (Bulmer, 1984 p 1). Park mengabugkan teori dan penelitian yang nyata (Bulmer, 1984 p 97-98). Robert Park mengubah ilmu sosial menjadi dekat dan terlihat kedalam dunia dimana ilmu pengetuhan adalah bagianya. Empirisme ilmu kounikasi dan jugaperhatiannya terhadap perubahan sosial (yang agak unik dari ilmu-ilmu sosial Amerika), dapat dilacak kembali dari pengaruh intelektual Robert E. Park.

Robert park adalah satu dari murid Dewey yang paling giat di Univ. Michigan ; dia mengambil enam mata kuliah dari Dewey, dan kemudian bergabung dalam Thought News. Dewey menanamkan pikiran yang terformasi pada muridnya, yang membawa Park pada awal untuk mencapai reformasi jurnalistik, dan kemudian fokus pada ilmu sosial sebagai alat perbaikan sosial.

Setelah lulus dari Michigan pada tahun 1887, Park bekerja sebagai wartawan, menjadi reporter Koran selam dua tahun di Minneapolis, Detroit, Chicago, dan New York. Selama mas tersebut, ia mengembangkan kemampuan untuk mengamati perilaku, terutama yang menyimpang (seperti aborsi, kejahatan dll.) dari masyarakat urban miskin (masalah sosial yang menantinya menarik perhatian ilmiahnya). Ia juga memperlajari bagaimana jurnalisme yang berbeda dapat menjadi alat yang sangat berkuasa bagi perubahan sosial di Amerika.

Ketertarikannya terhadap berita dalam membentuk opini masyarakat pada akhirnya membuat Park berhenti dari pekerjaannya guna mengambil kuliah master filosofi di Harvard. Kemudian ia ke Jerman untuk mengambil gelar Ph.D, dimana ia belajar dengan George Simmel di Universitas Berlin. Kenyataannya ketiga mata kuliah yang Park ikuti dari Simmel adalah satu-satunya pelatihan formal dalam sosiologi yag pernah ia terima pada tahun 1904, disertasinya yang berjudul “The Crowd and The Public, mengekplorisasi tentang pembentukan opini publik oleh media. Walaupun hanya teori, sebagaimana gaya akademik Jerman saat itu, tetapi disertai juga memiliki data empiris yang mendukung teori-teori Park.

Saat Park kembali ke Eropa, ia bekerja sebagai relation bagi Serikat Reformasi Kongo dan bagi Booker T. Washington, seorang pendidik kulit hitam di institut Tuskeeqee. Pekerjaan ini cocok dengan keperibadian Park dan minat intelektualnya dalam berhubungan antara ras. Akhirnya pada tahun 1914 diumurnya ke 50, Park diundang untuk bergabung di Jurusan sosologi Univ. Chicago

Univ. Chicago berdiri pada tahun 1892 (sekitar 250 setelah Harvard), dengan pemberian yang sangat dermawan dari John D. Rockfeller, yang mendirikan kerajaan Standard Oil, dan dari beberapa pengusaha industri Chicago. Dengan gaji dari Univ Chcago, yang itu dua kali rata-rata gaji professor-professor Amerika maka Univ baru ini bisa membuat fakultas yang sangat baik. Selama beberapa decade, Univ menampilkan kualitas akademik kelas dunia di AS Universitas ini mengambil yang terbaik dari ide-ide yang terbaru dari Universitas-universitas di Amerika dan Eropa dan membuat ide-ide lebih baik lagi. Chicago memiliki Jurusan Sosiologi yang pertama AS. Universitas ini beralokasi dibagian selatan pusat kota Chicago, ditengah-tengah permukiman masyarakat kelas rendah yang didiami oleh para imigran baru dari Eropa, yang kebanyakan bekerja di industri daging kemasan terdekat. Karenanya Sekolah Sosiologi Chicago terfokus pada kota Chicago sebagai laboratorium alaminya. Dan Park adalah pimpinan intelektual bagi pendekatan ekologi ini.

Para penemu dan pendukung ilmu komunikasi di AS merupakan penganut positivisme dalam beberapa cara ; meraka percaya bahwa metode-metode ilmu pengetahuan dapat diaplikasikan pada ilmu tentang masyarakat guna memberikan solusi-solusi yang bermanfaat bagi masalah-masalah sosial. Meraka percaya bahwa orang-orang dapat mengunakan metode-metode ilmiah untuk meningkatkan kehidupan. Masyarakat tampaknya belum mengalami pergerakan yang cukup banyak pada masa-masa awal sekolah Chicago (1915-1925): Migrasi ke AS oleh kaum miskin Eropa, urbanisasi yang parah dikota-kota besar seperti Chicago, dan masalah sosial yang terkait seperti kriminal dan prostitusi menjadi ciri khas Amerika. Penitik beratan sekolah Chicago pada masalah sosial urban dapat dilihat pada judul buku-buku yang diterbitkan: The Hobo (1923), The Gang (1927), The Ghetto (1928), The Gold Coast and The Slim (1929), The Negro Family In Chicago (1932), Vice In Chicago (1933), dan 10.000 Homeless Men (1936).

Sekolah Sosiologi Chicago menyerang teori instink perilaku manusia, dengan alasan bahwa perilaku individu dapat dijelaskan dengan psikologi sosial interaksionis yang dikemukakan oleh John Dewey, Cooley, dan Mead. Penentuan instink biologi diserang secara teori, dan instink ditunjukkan memiliki kekurangan realitas empiris. Menurut pendukung teori interaksi, seorang anak tidak terlahir sebagai manusia maupun mahkluk sosial, tapi kemudian dengan cepat mempelajari bahasa dan memahami dirinya, yang membuat sang individu menjadi mahkluk sosial. Pembentukkan keperibadian ini menempatkan komunikasi interpersonal utamanya dengan kelompok utama yang terdiri dari orang tua, kawan sebaya, dan teman-teman pada tempat yang utama. Pribadi itu sendiri, yang digambarkan Cooley sebagai diri bercermin, tercipta ketika anak mampu memikirkan bagaimana penempilannya/dirinyaa di mata orang lain, bagaimana orang lain menilai perilakunya, dan ketika sang anak bereaksi terhadap evaluasi ini (Hinkle & Hinkle, 1954 pp 30-31). Sehingga ahli-ahli mengunakan instink untuk menjelaskan perilaku manusia, sosiologi Chicago menunjukan bahwa perilaku manusia, khususnya tindakan kejahatan yang mereka teliti, merupakan pengaruh kelompok dengan cara komunikasi melalui jaringan interpersonal. Sebagai contoh, seorang professor Chicago memberitahukan mahasiswanya bahwa ia belum pernah bertemu seorang anak yang melakukan kejahatan pertama seorang diri (Faris, 1970 p 76).

Maka bagi sosiologi Chicago, komunikasi adalah proses manusia yang fundamental, walau selain Robert Park, meraka tidak secara spesifik meyarankan untuk penelitian komunikasi masa depan. Mungkin inilah satu alasan mengapa hubungan antara sekolah Sosiologi Chicago dengan disiplin ilmu komunikasi modern kurang dihargai, dan seringkali diabaikan oleh para pengamat yang mempelajaari sejarah penelitian komunikasi.

Park menjelaskan komunikasi sebagai proses sosial psikologi yang dengannya seorang individu dapat meyimpulkan, hingga taraf dan tingkat tertentupendirian dan sudut pandang orang lain. Pandangan subyektivisme ini menhidari cara berpikir satu arah yan diterapkan oleh model komunikasi berdasarkan teori informasi Claude Shannon dan Warren Weaver pada tahun 1950an. Gambaran komunikasi Park memungkinkan dua individu atau lebih dapat bertukar informasi selama proses berkomunikasi, dimana masing-masing memberikan makna yang berbeda terhadap infokrmasi yang mereka terima.

Robert Park tidak hanya berteori soal komunikasi, tetapi ia juga meneliti komunikasi massa dalam berbagai cara yang sekarang digunakan oleh sarjana-sarjana masa kini, sebagai contoh Park menerbitkan risalah yang berjudul The Imigrant Press & 1ts Control (1922), yang menguraikan tentang peranan Koran berbahasa asing di Amerika. Park menunjukkan Koran berbahasa Yahhudi Jerman, Polandia, Jerman dan Koran berbahasa lainnya, bagi imigran justru memperlambat akulturasi mereka kedalam kehidupan di Amerika.

Gagasan tentang pengsettingan agenda, dimana media masa menetapakan prioritas isu-isu baru dan karenanya mempengaruhi apa yang dibicarakan pembacanya, berdasarkan identifikasi Park atas berita sebagian berdasar bagi diskusi interpersonal (Fraizer & Gaziano, 1979 p 2). Pemikiran Park bahwa pemikiran publik dapat diukur, telah jauh melampauhi pemikiran George Gallup, Paul F. Lazarsfeld, dan pionir-pionir survey lain pada tahun 1940an. Robert Park juga terdepan dimasanya dalam mencetuskan pertanyaan penelitian seperti: Bagaimana jaringan interpersonal terhubung dengan media massa ?. Hingga sampai taraf mana Koran mempengaruhi opini publik (pengsettingan agenda)dan bagaimana Koran dikontrol oleh opini publik ?. Seberapa mampu media membawa perubahan sosial ?.

Sesudah Robert Park , sosiologi Amerika berahli dari komunikasi ke penlitian kelas sosial dan kerja, dan komunikasi tidak lagi menjadi isu sentral dari pertanyaan selama lebih dari 50 tahun. Park setelah masa-masa gemilang selama 20 tahun mendominasi bidang sosiologi (hingga 1935). Sekolah Chicago menurun menjadi sama saja dengan Jurusan Sosiologi bagus lainnya.

Goerge Herbert Mead : Diri Manusia

Mead (1863-1931) mempelajari filosofi paragmatis dengan William James di Harvard dan kuliah pasca sarja di Jerman, tapi ia terutama terpengaruh oleh kolegannya di Universitas Michigan, John Dewey. Mead pindah kejurusan filosofi Univ Chicago pada tahun 1894 atas undangan Dewey, dan menjadi terlibat dalam berbagai proyek aksi sosial, setelah 40 tahun sebelumnya terlibat dalam kerja filosofi murni. Mead melakukan sebuah survey yang bertujuan untuk mengubah kehidupan pekerja tempat penyimpanan ternak, dan juga terlibat dalam sekolah percobaan Dewey(Bulmer, 1984 p 24). Bahkan Mead dikenalkan sebagai salah satu tokoh utama reformasi Chicago (Bulmer, 19824 p 124). Pandangan progresifime ini sangat erat hubungannya dengan behaviorisme (perilaku) Mead, yaitu suatu kepercayaan akademik dalam mempelajari pengalaman individu dari sudut pandangtingkah laku, khususnaya hal ini diamati oleh orang lain.

Orientasi perbaikan Mead cocok dengan sekolah Sosiologi Chicago, dimana Mead menjadi intelektual berpengaruh kedua ssetelah Robert Park didalamnya (Walaupun Mead adalah professor Jurusan filosofi, semua Mahasiswa S3 sosiologi mengambil mata kuliahnya di psikologi sosial tingkat tinggi). Selama 30 tahun mngajar di Chicago, Mead menemukan pendekatan interaksionis simbolis pada psikologi sosial. Pengaruh yang diberikan Mead bukan melalui bukukarangan tetapi melalui kuliahnya. Pada kenyataannya dia tidak pernah menerbitkan buku. Beberapa tahun setelah kematiannya, murid-murid Mead menerbitkan buku “ Mind, Self and Society “(Mead, 1934) yang diambil dari catatan-catatan kuliah mereka yang intinya tentang interaksionis symbolis. Mead sangat tergantung langsung pada teman-temannya seperti John Dewey dan Charles Horton Codey dalam mengagas teori dirinya, tetapi Mead membawa karya mereka kearah yang lebih menekankan komunikasi manusia sebagai agen sosial yang fundamental. Teori Mead mengatakan bahwa individu-individu mengetahui tentang diri mereka sediri melalui interaksi dengan orang lain yang mengkomunikasikan pada mereka siapa diri mereka.

Mead menekankan bahwa pribadi mulai terbentuk pada seorang anak ketika individu itu belajar mengambil peranan orang lain, belajar membayangkan peranan orang lain dan untuk mengantisipasi tanggapan orang lain terhadap tindakan individu tersebut. Kemampuan empati ini bergantung pada pengunaan bahasa dan dipelajari melalui interaksi sosial dalam suatu kelompok utama seseorang. Sehingga para psikologi sosial yang menganut paham interaksionis mengakui komunikasi sebagai dasar proses manusia(1934, p xxiv) Mead menciptakan konsep menggeneralisasikan orang lain, yang mana seseorang belajar untuk berempati. Oleh karenanya “pribadi” seseorang akan terdiri atas semua sikap dan pendirian individu-individu lain yang ditemaninya dalam berinteraksi , dan yang diambil untuk dirinya. “saya” (pribadi) adalah perspektif individu atas bagaimana orang lain melihat dirinya.

Apa persamaan yang dimiliki keempat pendukung ilmu komunikasi Amerika ini ? mereka kuliah dan mengajar di Universitas-universitas di Amerika yang bergensi, Michigan dan Chicago, dan untuk halnya Park dan Mead, mereka kuliah di Jerman. Karenanya mereka mengjembatani ilmu pengetahuan Eropa dan Amerika. Pertalian instutusional mereka memberi energi bagi ide-ide mereka tentang komunikasi manusia. Mereka berempat datang dari latar belakang masyarakat pinggiran, tapi memajukan kehidupan urban, dan perubahan ini mempengaruhi paham liberalis progresif mereka. Dewey, Cooley, Park, dan Mead adalah penganut pandangan positif, yakni pada perbaikkan masalah-masalah sosial melalui penelitian sosial. Koran-koran Amerika telah menjadi media massa yang penting yang memiliki pembaca yang sangat banyak pada tahun 1900; Keempat tokoh ini sangat tertarik dengan potensi Koran bagi perubahan sosial. Mereka berempat adalah orang-orang yang empiris, menggunakan metode pengumpulan data mulai dari observasi introspeksi Cooley ke analisa isi/konten Park dan usaha Mead dengan penelitian survey. Semuanya adalah filsuf humanis dalam orientasi mereka, menekankan pembuatan teori, tapi juga menekankan pentingnya pengumpulan data empiris. Mereka berempat mendahului orang-orang dijaman mereka dalam mengakui komunikasi sebagai proses yang pundamental yang mempengaruhi perilaku manusia. Mereka menekankan subyektifitas komunikasi manusia, suatu kualiatas yang sayangnya tergantikan dengan model komunikasi berorientasi efek. Keempatnya juga mempelajari fenomena komunikasi yang luas kisarannya, berusaha menghilangkan keragaman pertanyaan-pertanyaan penelitian paradigma_______________untuk menyatukan dan mengintegrasi disiplin ilmu komunikasi baru terwujud pada era berikutnya dalam penelitian komunikasi. Arsitek ilmu komunikasi : Claude Shannon dan Norbert Wiener.

Beberapa tahun tepat setelah perang dunia II ditandai oleh waktu yang penting bagi perkembangan lapangan baru penelitian komunikasi. Sepertinya seakan-akan ide-ide teknologi dan sosial yang penting ini telah dibendung oleh dedikasisepenuh hati bangsa Amerika untuk berperang. Penelitian interdisipliner telah berkembang dalam berbagai proyek militer selama perang yang juga berperang penting bagi kebangkitan ilmu komunikasi .

Selama beberapa tahun setelah 1945, beberapa peristiwa penting terjadi secara cepat yang menambah peranan teknologi sebagai penyokong komunikasi manusia.

· Pada januari 1946,computer mainframe pertama,ENIAC,digunakan di sekolah tekhnik noure di univ peunsyluania.maka dimulailah revolusi computer walaupun universitas pensilvania segera kehilangan posisi dominannya dalam tekhnologi computer ketika pejabat universitas mencoba memaksa pencipta ENIAC ,presper ecker dan john mauchly untuk menyerahkan hak komersial mereka.

· Sekitar seribu mil dari Philadelphia di bell labs in murray hill new yersey dari beberapa tahun kemudian,William shocley,yohn barden dan walker brattain menemukan transsitor yang mungkin merupakan penemuan terpenting dibab ini. Transistor itu adalah salah satu device yang berfungsi mengantikan vacuum tube sebagai unit eletronik yang terpenting. Kelebihan dari transistor adalah ukurannya yang kecil dan kebutuhan listriknya yang kecil. Pada tahun 1980an chips semikonduktor (transistor modern) membuat ukuran computer semakin kecil sehingga harganya menjadi lebih terjangkau. Sehingga kebanyakan rumah tangga dan bisnis di Amerika mampu membelinya.

· Akhir tahun 1940an juga merupakan tahun-tahun yang penting dalam penelitian ilmu komunikasi. Di MIT ahli matematika, Norbert Wiener menerbitkan bukunya cyberneticks atau control dan komunikasi pada binatang dan mesin (1948). 2 Tahun kemudian Wiener menulis buku berikutnya yang bersifat non teknik yang juga menjadi best seller yang berjudul: “The Human Use Of Human Beings; Cybernetics and society(1950)

· Yang lebih berpengaruh dalam kebangkitan ilmu komunikasi adalah buku kecil yang ditulis oleh Cloude E. Shannon, seorang insinyur bidang elektro pada bell labs, dan Warren Weaver dari yayasan Rockfeller di New York buku teori metamatis komunikasi (1949). Me ngusung model komunikasi dilengakapi dengan sejumlah teori matematis. Tentang aspek-aspek dari komunikasi . model yang sederhana diterima dengan antusiasme oleh ahli-ahli komunikasi dan mempengaruhi penelitian mereka dalam beberapa decade kedepan. Sayangnya beberapa ahli mengubah model dasarnya dalam cara-cara yang fundamental.

· Pada kisaran waktu yang sama Williem Schramm, seorang akademis yang memiliki keahlian dalam bidang penulisan fiksi ilmiah dari Universitas Iowa ke Universitas Illinois, dimana ia memahami sekolah komunikasi pertama yang memberikan gelar Ph.D. banyak ahli-ahli dari tahun-tahun sebelumnya yang telah melakukan kegiatan penelitian komunikasi, tetapi mereka utamanya hanya mengindentifikasikan komunikasi dengan disiplin asal yaitu sosiologi, psikologi, atau ilmu politik. Mereka menjadi pelopor dalam penelitian komunikasi namun hanya dalam batasan intelektual. Setelah Schramm di Illinois penelitian komunikasi akhirnya dilembaga dalam institusi universitas, sekolah dan sebagian komunikasi, dan setengahnya banyak yang berspekulasi dan sebagian tetap dalam disiplin ilmu baru tersebut.

Teori Matematis Komunikasi

Buku Shannan and Weavers “The Mathematic Teory Of Comunications” (1994) diterbitkan pada saat penelitian-penelitian komunikasi bermunculan dari kumpulan pendidikan sekolah keterampilan.

Dampak Teori Shanon……

FACE

Kadang-kadang kita berpikir bahwa kita cukup sempurna sehingga tidak memerlukan orang lain untuk ada di sekitar kita.. setidaknya ada beberapa orang berpikir seperti itu. Sedangkan beberapa orang yang mengaku sangat taat pada yang namanya Tuhan berpikir sempit bahwa ia tidak perlu berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan manusia lain.. setidaknya ada beberapa orang berpikir demikian.

Lalu kemudian aku mulai berpikir.. Apakah aku adalah salah satu di antara mereka?

Bagiku, manusia diciptakan begitu banyak yang hidup di dalam dunia ini.. tentunya terdapat begitu banyak persoalan yang dapat ditimbulkan dalam keadaan ini. Namun jika kita mau berpikir bersama, berbuat bersama.. tetap saja akan ada persoalan..namun tidak sebanyak jika tidak melakukannya..

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!