Technological change has placed communication in the front lines a social revolution

(William Paisley, 1985)

Kalimat di atas terdengar begitu dahsyat. Perubahan teknologi menempatkan komunikasi di garda paling depan dari perubahan sosial. Dalam konteks mediasi, teknologi media berperan dalam membentuk cara kita berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain. Teknologi media, layaknya sebuah struktur, membatasi apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan manusia. Ini terjadi tak lain karena tiap medium memiliki kemampuan teknis yang berbeda dalam menyampaikan teks, suara atau gambar (Croteau :262). Bahkan Mc Luhan, yang terkenal dengan adagium medium is the mesage, mengatakan bahwa teknologi media memiliki implikasi pada keseimbangan penggunaan indra kita. Misalnya media cetak yang hanya bisa menyampaikan teks dan gambar diam lebih memfungsikan indra mata. sedangkan radio memaksimalkan fungsi indra telinga..

Dalam kacamata kaum determinist, teknologi merupakan elemen penting yang menjadi pangkal dari perubahan sosial. Teknologi dilihat sebagai kekuatan sosial dari luar yang masuk (atau dimasukkan) ke dalam situasi sosial tertentu dan mengakibatkan efek perubahan beruntun. Fischer sebagaimana dikutip Croteau menyebutnya sebagai pendekatan bola bilyar. Meskipun dalam kenyataan tak selamanya begitu. Sebagaimana yang terjadi di India ketika para petani di sana dikenalkan pada teknologi televisi dalam rangka difusi-inovasi teknologi pertanian (Rogers, 1982:80). Pengalaman di India menunjukkan bahwa ada kesenjangan efek media yang menyebabkan kegagalan komunikasi pembangunan.

Dalam kajian tentang teknologi media, ada dua ranah utama yang bisa dijadikan sebagai focus of interest yaitu adopsi dan dampak sosial dari teknologi media dalam masyarakat. Penelitian tentang adopsi teknologi komunikasi berdasar pada penerapan teori yang telah dikenal lama dan memiliki sejarah panjang yaitu teori difusi-inovasi. Beberapa pertanyaan utama tentang adopsi teknologi komunikasi yang menarik untuk dicermati antara lain siapa yg mengadopsi. Bagaimana karakteristiknya. Mengapa mereka mengadopsi. Seberapa cepat proses adopsi terjadi. Apakah adopsi tersebut membawa efek pada adopsi teknologi/sesuatu yang lain (Rogers, 1986:117)

Masih menurut Rogers (1986:134) kelompok orang yang melakukan adopsi lebih awal (earlier adopter) biasanya memiliki karakteristik yang berbeda dengan kelompok terakhir (later adopter) yaitu :

· Lebih kosmopolit, kosmopolitan adalah ukuran dimana individu memiliki orientasi diluar sistem sosial.

· Memperoleh lebih banyak terpaan dari beragam media massa dan relatif tidak tergantung pada saluran komunikasi antarpribadi.

· Memiliki banyak saluran komunikasi antarpribadi, dan memiliki jaringan hubungan yang lebih tinggi dalam sistem.

· Lebih banyak berhubungan secara langsung dengan sumber informasi tentang teknologi komunikasi baik ilmiah dan teknis.

Fokus kajian berikutnya yaitu mengenai dampak sosial dari kehadiran teknologi komunikasi. Dari berbagai kajian yang telah dilakukan oleh para sarjana, beberapa dampak yang cukup signifikan dalam kehidupan sosial antara lain

Kesenjangan Informasi, Katzman mengeluarkan postulat (Rogers, 1986:168) bahwa teknologi baru komunikasi setidaknya membawa dampak pada peningkatan jumlah informasi yang dikomunikasikan pada seluruh individu dalam suatu masyarakat. Peningkatan yang lebih besar dialami oleh kelompok yang mendapat akses informasi lebih banyak (information rich) daripada sebagian kelompok, yang biasanya mayoritas, miskin informasi (information poor) yang sangat berkaitan dengan status sosial ekonomi.

Pemikiran ulang konsep ruang dan waktu, kemunculan televisi sebagai teknologi audiovisual memaksa kita berpikir ulang mengenai konsep ruang dan waktu. Sebuah peristiwa di belahan dunia yang jauh bisa kita ketahui dalam waktu yang nyaris bersamaan. Menyaksikan suatu peristiwa tanpa harus berada disana. Melalui teknologi komunikasi informasi yang semakin canggih, sekat jarak dan waktu seolah hilang. Dunia benar-benar tak ubahnya sebuah kampung global (global village).

Pergeseran makna dalam kehidupan sosial, Neil Postman (1985) berargumen bahwa masyarakat yang berbasis media cetak (masyarakat Amerika abad 18 hingga 19) termotivasi untuk rasional, serius dan koheren dalam cara berpikir dan isu tentang wacana publik. Membaca membentuk pemikiran yang analitis, logis dan jelas. Dan kondisi itu berubah sejak kemunculan televisi (Croteau, 268:269). meningkatnya penggunaan televisi mengubah cara masyarakat berbicara dan berpikir tentang isu publik, apalagi ketika tayangan televisi didominasi oleh hiburan dan gosip. Lebih jauh lagi, para penganut posmodernisme menuding budaya audiovisual sekarang sebagai biang dari hiperreality.

Selain itu, teknologi komunikasi juga menggeser apa yang kita sebut sebagai identitas dan peran sosial. Meyrowitz (1985) televisi secara radikal memutus hubungan antara lingkungan fisik (physical place) and lingkungan sosial (social place).Sebelum media elektronik berkembang, peran sosial dan identitas kita terkait erat dengan lingkungan fisik dimana kita berada. Penemuan media elektronik, terlebih televisi, membuat definisi keduanya menjadi kabur. Setidaknya berubah untuk menyesuaikan dengan kondisi sosial yang baru.

Referensi

Croteau, David and William Hoynes. 1997. Media/Society: industries, images, and audiences. United States: Pine Forge Press

Rogers, Everett M. 1986. Communication Technology. New York: The Free Press.

_______________. 1982. Communication and Development: critical perspective. Cetakan keempat. California: Sage Publication.